Klaim Trump soal Iran “Menyerah” Dipertanyakan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Sumber :
  • CNBC Internasional

Jakarta, VIVA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi sorotan dunia setelah pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Iran telah “menyerah” kepada negara-negara tetangganya. Klaim tersebut disampaikan melalui unggahannya di platform Truth Social dan langsung memicu berbagai tanggapan dari pengamat geopolitik.

img_title Macron Kritik Pedas Trump dan Netanyahu soal Kerusuhan Prancis yang Dikaitkan dengan Imigran Islam

Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bagian dari strategi komunikasi politik, bukan gambaran akurat mengenai kondisi di lapangan. Narasi kemenangan yang disampaikan Trump justru dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan realitas geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Gaya komunikasi seperti itu kerap digunakan Trump untuk membangun tekanan psikologis terhadap pihak lawan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social, yang menyebut Iran sebagai "The Loser of the Middle East" dan menggambarkan Iran sudah "menyerah" kepada negara-negara tetangganya, tidak menggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi.

img_title Jika Perang Kembali Pecah, Garda Revolusi akan Targetkan Kabel Internet di Selat Hormuz

Hal tersebut turut disorot oleh Emaridial Ulza, akademisi yang saat ini menjabat sebagai Associate Professor di Uhamka serta aktif di bidang hubungan internasional. Emaridial Ulza menyebut pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk.

img_title Gianni Infantino Ditekan UEFA, Gaji hingga Hubungan dengan Donald Trump Jadi Masalah

“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis” ujar Emaridial Ulza dalam keterangan tertulisnya. 

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Iran “telah meminta maaf dan menyerah” kepada negara tetangga setelah serangan AS dan Israel. Ia bahkan menyebut Iran bukan lagi sebagai ancaman di Timur Tengah, melainkan sebagai “pecundang”.

Selain itu, Trump juga menyampaikan ancaman bahwa Iran bisa menghadapi “pukulan sangat keras”. Pernyataan tersebut membuka kemungkinan perluasan target serangan ke wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak termasuk dalam sasaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun menurut Emaridial, narasi tersebut justru menunjukkan adanya kontradiksi. Ia menilai kondisi konflik di lapangan kemungkinan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan gambaran yang disampaikan secara sepihak.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam banyak konflik internasional, deklarasi kemenangan sering kali digunakan sebagai strategi komunikasi politik untuk mempengaruhi opini publik.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut