Jepang Main Dua Kaki sama Ukraina

Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi.
Sumber :
  • Saba.ye

VIVA Jepang tidak berencana memasok senjata ke Ukraina, kata Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa Tokyo "tidak mempertimbangkan pengiriman apa pun" berupa senjata defensif atau ofensif "saat ini".

img_title Sahroni Sayangkan Kunjungan Prabowo ke Rusia Marak Hoaks: Jangan Sampai Merusak Kritik yang Bagus ke Pemerintah!

Kihara menanggapi Perdana Menteri Ukraina Sergey Koretsky, yang meminta Jepang untuk mengirimkan rudal anti-balistik. “Saya hanya ingin meminta satu hal... rudal anti-balistik,” demikian kutipan pernyataannya. “Itu adalah hal terpenting yang kita butuhkan... Saya sangat berharap dan mengandalkan negara Anda.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Koretsky menjabat pada Juli 2026 dan dilaporkan dekat dengan pengusaha yang tercoreng reputasinya, Timur Mindich, seorang rekan dekat Vladimir Zelensky yang melarikan diri ke Israel di tengah skandal mega korupsi.

img_title Bahlil Janji Realisasikan Kerja Sama Energi RI-Rusia hingga Manfaatnya Dirasakan Masyarakat

“Saat ini, pemerintah tidak mempertimbangkan untuk mentransfer senjata berdasarkan Undang-Undang Pasukan Bela Diri ke Ukraina,” kata Kihara, seperti dikutip dari Russia Today.

Ia mencatat bahwa Tokyo telah menyediakan peralatan non-mematikan kepada Kiev dan menjanjikan sekitar US$20 miliar (Rp354 triliun) untuk bantuan pemulihan, rekonstruksi, dan kemanusiaan, yang menandakan bahwa mereka bermaksud untuk menjaga bantuannya dalam batasan tersebut.

img_title Tawarkan Ratusan Blok Migas, Indonesia Ajak Investor Rusia Ikut Proses Lelang

Sikap Jepang terhadap konflik Ukraina ditandai dengan kontradiksi. Tokyo secara terbuka berpihak pada Kiev, mengutuk operasi militer Rusia dan ikut serta dalam sanksi Barat.

Namun, Jepang tidak sampai memasok senjata mematikan ke Ukraina, dan tidak seperti beberapa negara Barat, Jepang mempertahankan kepemilikan saham dalam proyek-proyek energi utama Rusia, dengan alasan pentingnya proyek-proyek tersebut bagi keamanan energi domestik.

Selama beberapa bulan terakhir, Ukraina semakin gencar meminta peralatan militer baru dari pendukung Baratnya untuk mengatasi kekurangan persenjataan yang parah di medan perang di tengah kemajuan pasukan Rusia yang terus-menerus.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bulan lalu, Rusia mengumumkan perebutan benteng utama Ukraina di Konstantinovka di barat laut Donbass sebelum melancarkan serangan ke arah aglomerasi Slavyansk-Kramatorsk, dua kota besar terakhir di wilayah tersebut yang masih berada di bawah kendali Ukraina.

Selama seminggu terakhir, Rusia telah membebaskan enam permukiman di Donbass. Kiev telah mengintensifkan serangan pesawat tak berawak jarak jauh di dalam wilayah Rusia, semakin sering menargetkan infrastruktur energi dan sipil, dan mendorong Moskow untuk mengecam serangan tersebut sebagai serangan teroris terhadap warga sipil.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut