China Punya Cara Sendiri Mengontrol Informasi di Era Digital
- YouTube/On Demand News
China, VIVA – Pengendalian informasi di China kini tidak hanya soal memblokir situs atau menghapus unggahan tertentu. Dalam perkembangannya, pemerintah China membangun sistem yang lebih luas untuk mengatur bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, hingga dipahami masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Great Firewall menjadi salah satu simbol pembatasan internet di China. Namun, di bawah pemerintahan Xi Jinping, pengawasan informasi berkembang menjadi mekanisme yang juga melibatkan media pemerintah, platform digital, regulasi, pendidikan, serta pengelolaan opini publik.
Laporan U.S.-China Economic and Security Review Commission (USCC) pada 2024 mencatat bahwa pendekatan pemerintah China semakin mengarah pada langkah proaktif untuk membentuk opini publik, seperti melansir dari Ceylon Wire News. Artinya, pengendalian tidak semata dilakukan dengan menghapus konten yang dianggap bermasalah, tetapi juga dengan memperkuat narasi yang dinilai sesuai dengan kepentingan negara.
Dari Menghapus Konten hingga Membentuk Persepsi
Perubahan tersebut membuat pertanyaan mengenai kebebasan informasi di China menjadi lebih kompleks. Sebab, persoalannya bukan hanya apakah sebuah informasi masih tersedia atau sudah dihapus. Yang juga penting adalah informasi mana yang mendapatkan ruang paling besar dan bagaimana sebuah peristiwa dijelaskan kepada publik.
USCC mencatat adanya dorongan untuk menggunakan pendekatan seperti public opinion guidance serta penyebaran propaganda positif. Regulasi yang membuat platform dan penyedia layanan internet ikut bertanggung jawab atas konten juga dapat mendorong terjadinya penyensoran mandiri.
Pola tersebut terlihat dalam berbagai bidang, termasuk budaya. Undang-Undang Pendidikan Patriotik China yang berlaku sejak 1 Januari 2024 memperluas pendidikan patriotik ke berbagai ruang kehidupan masyarakat, termasuk sastra, film, musik, teater, dan konten daring.
Dengan aturan tersebut, karya budaya tidak selalu dipandang sebatas hiburan. Dalam konteks tertentu, karya tersebut juga dapat ditempatkan dalam kerangka narasi sejarah dan identitas nasional yang dipromosikan negara.
Bencana di Tibet Jadi Contoh Terbaru
Perdebatan mengenai pengendalian informasi kembali mencuat setelah banjir besar melanda wilayah perbatasan China-Nepal pada Agustus 2026.
Banjir yang dipicu runtuhnya gletser menghantam kawasan Gyirong di Tibet. Sejumlah laporan media internasional menyebut akses jurnalis asing ke wilayah terdampak sangat terbatas, sementara unggahan warga mengenai bencana juga dilaporkan mengalami pembatasan.