Trump Hubungi Netanyahu, AS Bersiap Kembali Serang Iran
- Reuters
Jakarta, VIVA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan berbicara melalui telepon pada Sabtu pagi (31/10). Pembicaraan itu berlangsung saat AS tengah menyiapkan rencana untuk kembali menyerang Iran.
Laporan The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah sumber menyebutkan, dalam pembicaraan tersebut kedua pemimpin membahas situasi terkait Iran. Pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada wartawan di Palm Beach bahwa AS masih memiliki satu atau dua target di Iran yang ingin dihancurkan.
"Kami masih harus menangani, bisa saya katakan, satu atau dua lokasi lagi. Namun, itu bisa kami lakukan dalam 10 menit. Anda mungkin bisa melihat Gunung Pickaxe. Lokasi itu juga harus ditangani,"kata Trump dikutip dari laman Times of Israel, Minggu (1/11/2026).
Sebagai informasi, Gunung Pickaxe masuk dalam daftar lokasi yang diduga digunakan untuk menyimpan material nuklir berdasarkan penilaian intelijen negara-negara Barat. Hingga kini, lokasi tersebut belum pernah menjadi sasaran serangan AS dalam perang melawan Iran.
Trump juga mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan cukup baik. Namun, dia menilai Republik Islam tersebut bukan pihak yang bisa diandalkan.
Di tengah situasi tersebut, para negosiator Iran menggelar pembicaraan dengan mediator Qatar di Doha pada Sabtu kemarin. Pertemuan itu membahas sejumlah kemungkinan untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Seorang sumber yang mendapat informasi mengenai jalannya negosiasi mengatakan kepada Reuters bahwa para diplomat sedang berupaya mencegah pecahnya kembali pertempuran setelah pemilihan paruh waktu (midterm) AS yang berlangsung pekan ini.
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan, pertemuan di ibu kota Qatar tersebut berlangsung setelah utusan Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama lebih dari 12 jam di Teheran pada Jumat. Menurutnya, proses negosiasi itu dikoordinasikan melalui komunikasi rutin dengan Washington.
Negara-negara di kawasan Teluk memperkirakan Trump dapat kembali melancarkan serangan setelah pemungutan suara pemilu paruh waktu AS selesai. Iran berulang kali menegaskan akan membalas setiap serangan baru dengan menargetkan kepentingan AS dan Israel di negara-negara tetangganya.