Khadafi Terpojok, Harga Minyak Turun

Seorang tentara anti rezim Khadafi berjaga di depan ladang minyak Libya
Seorang tentara anti rezim Khadafi berjaga di depan ladang minyak Libya
Sumber :
  • AP Photo

VIVAnews - Harga minyak mentah dunia sedikit turun menyusul dikuasainya sebagian besar kota Tripoli, Libya, oleh para pemberontak yang membuat Khadafi kian terpojok. Namun, para ahli memperkirakan harga tidak turun drastis, mengingat produksi minyak Libya yang belum akan pulih dalam waktu dekat.

Dilansir dari laman CNN, Senin, 22 Agustus 2011, salah satu yang turun adalah minyak Brent, benchmark Eropa. Harga minyak Brent dilaporkan turun 1,2 persen menjadi US$107,27 per barel.

Analis minyak di Oil Price Information Service, Tom Kloza, memprediksi penurunan harga minyak ini juga akan menurunkan harga bensin antara US$3,25 hingga US$3,50 per galon pada akhir September.

"Saya kira penggulingan Khadafi nantinya akan dapat menghilangkan sedikit tekanan pada harga minyak dalam jangka pendek. Namun, upaya pemerintah berikutnya untuk melanjutkan produksi minyak kemungkinan masih akan dilakukan paling lambat pada 2012," kata Kloza.

Penurunan ini memang dinilai tidak terlalu signifikan. Namun, Kloza mengatakan penurunan setidaknya dapat membuat Amerika Serikat menghemat hingga US$1,4 miliar per tahun.

David Kotok, kepala bagian investasi Konsultan Cumberland mengatakan, "Ini akan menjadi stimulus yang besar terhadap perekonomian AS."

Dan Dicker, pialang minyak selama 25 tahun, mengatakan tren penurunan harga minyak hanya akan bertahan sesaat. Dia mengatakan, minyak Brent akan kembali ke harga stabil beberapa hari lagi setelah para pialang minyak sadar minyak Libya belum dapat disalurkan dalam beberapa bulan ke depan.

"Minyak Brent hanya akan berada di harga yang bagus selama sepekan, sampai para pialang sadar tidak ada minyak dari Libya selama setahun ke depan," kata Dicker.

Pengiriman minyak Libya ke beberapa negara berhenti enam bulan lalu saat pemberontakan terjadi di negara tersebut. Akibat konflik, pipa penyalur minyak dan ladang minyak hancur. Para insinyur perminyakan dari luar negeri juga hengkang. Sebelumnya, Libya mengekspor 1,5 juta barel minyak per hari. (art)