Minat Mahasiswa Australia Belajar di Indonesia Masih Rendah

Program pertukaran pemuda Australia dan Indonesia
Program pertukaran pemuda Australia dan Indonesia
Sumber :
  • Australian Embassy Jakarta

VIVAnews - Jumlah pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Australia kian bertambah hingga lebih dari seratus ribu orang. Sebaliknya jumlah mahasiswa Australia yang belajar di Indonesia hanya puluhan orang setiap tahun.

Demikian ungkap pakar hubungan Indonesia-Australia, Profesor David Hill, dari Murdoch University. Bagi dia, jomplangnya perbandingan jumlah pelajar itu sangat ironis mengingat pemerintah Australia, dalam Buku Putih Strategi Politik Luar Negerinya, menganggap Indonesia sebagai mitra dan tetangga yang paling erat.

"Suatu data terbaru menunjukkan betapa besarnya disparitas itu. Setiap tahun, rata-rata 14.000 pelajar Indonesia belajar di Australia dan kebanyakan dari mereka adalah berstatus mahasiswa penuh, yang menuntaskan program sarjana di sini hingga selesai," kata Hill dalam perbincangan dengan VIVAnews di kampus Murdoch University di Kota Perth.

"Sebaliknya, jumlah pelajar Australia yang belajar di Indonesia masih tergolong sangat sedikit. Cuma ada sekitar 50 orang yang belajar selama satu semester di negeri Anda. Selain itu cuma 450 orang yang mengambil kursus singkat di Indonesia," kata Profesor Hill, yang juga memimpin lembaga Australian Consortium for 'In-Country' Indonesian Studies (ACICIS). "Bandingkan dengan Jerman, yang rutin menerima 2.000 mahasiswa asal Australia setiap tahun," lanjut dia.

Jumlah peserta kursus singkat asal Australia di Indonesia pun masih kalah dengan jumlah di Malaysia, yang sebanyak 664 orang dan di China sebanyak 2.000 orang. Menurut Hill ini menunjukkan suatu ironi di tengah klaim pemerintah Australia bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra yang sangat strategis bagai Negeri Kanguru itu, seperti yang tertuang dalam "Buku Putih The Asian Century."

"Bagaimana mau menganggap strategis, sedangkan minat orang Australia untuk tinggal dan belajar di Indonesia saja masih rendah. Setidaknya ada tiga pejabat tinggi RI, termasuk Wakil Presiden Boediono dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa merupakan lulusan Australia. Namun tidak ada satupun pejabat senior Australia yang pernah menimba ilmu di Indonesia," kata Hill.

Di sisi lain, Hill melihat makin besarnya minat pelajar Indonesia untuk belajar di negerinya merupakan keuntungan tersendiri bagi universitas-universitas Australia.

"Universitas-universtas di sini memanfaatkan bangkitnya kelas menengah di Indonesia yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Ini menjadi pasar yang menggiurkan bagi industri pendidikan Australia," kata Hill.

Sementara itu, Pemerintah Australia belakangan ini berupaya menggalakkan program-program pertukaran pemuda ke Indonesia. Selain itu mereka memfasilitasi kunjungan murid-murid sekolah dan guru.