Pendidikan Bencana di Museum dan Mal

Anak-anak Jepang ikuti pendidikan antisipasi bencana di Tokyo Gas Science Museum
Anak-anak Jepang ikuti pendidikan antisipasi bencana di Tokyo Gas Science Museum
Sumber :
  • Dokumentasi Uni Lubis

VIVAnews - Sekitar 100 anak-anak usia enam sampai belasan tahun berkumpul di lobi Tokyo Gas Science Museum,  di kawasan Toyosu, Sabtu siang (5/10). Puluhan boneka ditumpuk rapi.

Sejumlah meja ditata di sekitar lobi dan lantai mezzanin. Anak-anak didampingi orang tuanya tengah belajar beragam aspek mengenai  bencana.  Ruangan dan alat peraga sengaja dibuat warna-warni agar meriah dan menarik bagi anak-anak.

Sejumlah kuis berhadiah digelar untuk menarik pengunjung.  “Kami menggunakan edukasi dengan metode yang tetap menghibur,” kata Toshinori Tanabe, dari NPO Plus Arts, sebuah lembaga swadaya masyarakat.  Dia memimpin kantor Plus Arts di Kobe. 

Pada 17 Januari 1995 terjadi gempa besar di Kobe, bagian selatan Jepang.  Great Hanshin Earthquake, atau Gempa Kobe menewaskan 4.600 orang penduduk Kobe. 

Total korban tewas mencapai 140 ribuan orang dan dianggap sebagai gempa terbesar di Jepang dalam 20 terakhir setelah Gempa Kanto. Proses pemulihan pasca gempa melahirkan sejumlah inisiatif termasuk Plus Arts yang menggunakan pendekatan seni  dan kreatif dalam melakukan edukasi sadar bencana publik, dimulai dari usia anak-anak.

Art Plus didirikan oleh 20-an relawan yang melakukan wawancara dengan 167 korban selamat dari Gempa Kobe, mengenai saat-saat yang dialami saat terjadi bencana itu.  Hasil wawancara adalah sebuah manual yang diberi nama “Jishin Itsimo”, yang memuat pengalaman menghadapi bencana secara kronologis, mulai dari evakuasi sampai dampak psikologi yang dirasakan korban selamat. 

Memanfaatkan karya seni dari seniman terkenal Jepang, Bunpei Yorifuji, manual ini memaparkan secara menarik mengenai apa yang bisa dan harus dilakukan saat keadaan darurat bencana. Sejak 2005, Art Plus mengembangkan kegiatannya ke edukasi bagi anak-abak.

Selama bulan September, sampai awal Oktober  Plus Arts menggelar Bo-Sai Expo di Tokyo Gas Science Museum yang memiliki pemandangan indah ke Sungai Sumida, juga menggelar edukasi di mal LaLaPort  yang letaknya di samping museum. 

Wartawan ANTV Uni Z. Lubis yang tengah berada di Tokyo untuk rangkaian kegiatan East West Center Journalism Fellowships on Disaster Management and Resililiency menyaksikan relawan Plus Arts, yang didominasi anak-anak muda, mengajari anak-anak beragam hal yang perlu diketahui.  Misalnya soal pemanfaatan sejumlah benda di saat keadaan darurat. 

Secarik sapu tangan bisa digunakan untuk bandana, mengikat bagian tubuh yang luka, tas membawa makanan, masker sampai bebat kepala.  Kertas koran bisa digunakan membuat alas makan di saat darurat. 

“Ketika kami melakukan edukasi di Indonesia, kami mengganti kertas koran dengan daun pisang.  Edukasi kami sangat memperhatikan situasi lokal,” ujar  Toshinori Tanabe. Anak-anak juga diajari melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan, termasuk menggunakan selimut untuk mengangkat korban luka dan kantung belanja dari plastik untuk menggantung lengan yang patah.

Edukasi bencana juga dilakukan dalam bentuk membangun pengetahuan bagaimana merespon saat bencana terjadi.  Kartu-kartu dengan ilustrasi animasi menunjukkan bagaimana berlindung saat terjadi gempa, menghindari jatuhnya lemari,sampai memilih hanya memakan stok di kulkas pada hari pertama setelah gempa. 

“Utamakan makan makanan di kulkas yang mudah rusak karena biasanya listrik mati saat terjadi bencana,” kata Momo, salah seorang relawan yang menjagai stan Art Plus di halaman mal LalaPort.  Kegiatan ini nampak ebagai sebuah studi sambil piknik, bagi anak-anak dan orang tuanya.

Rawan Gempa

Jepang adalah negara yang rawan bencana gempa.  Sekitar 20% gempa yang terjadi di dunia terjadi di sejumlah tempat di Jepang. Edukasi bencana sebenarnya sejak lama jadi bagian dari kurikulum pendidikan di negeri Matahari Terbit ini.  Stasiun televisi NHK yang statusnya adalah lembaga penyiaran publik, misalnya, menjadikan informasi bencana dan penyelamatan korban saat terjadi bencana sebagai salah satu dari misi penting organisasi.

Begitupun, kesadaran atas pentingnya mitigasi dan kesiapan menghadapi bencana tak bisa menghindari dari jatuhnya korban.  Saat Great East Japan Earthquake and Tsunami Maret 2011, di kawasan Tohoku, tak kurang dari 20.000 korban tewas.

LSM seperti Art Plus mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan, termasuk Tokyo Gas yang mengelola bisnis dan pasokan gas bagi warga. Perusahaan menggunakan sampul belakang dari laporan tahunan dengan ilustrasi hal-hal yang perlu dilakukan saat terjadi bencana. 

Tokyo Gas memproduksi tisu basah yang memuat edukasi bencana di bungkusnya.  Saat darurat bencana, ketika pasokan air terhenti, tisu basah berfungsi membasuh badan dan muka.  Dililitkan ke jari tangan berfungsi menggosok gigi.  Di Tokyo Gas Science Museum anak-anak diajari mengenali bau gas dan cara bekerja gas di berbagai benda termasuk balon udara. Kemasan edukasi tetap diselipi kesadaran atas bencana.

Kegiatan wirausaha sosial yang fokus pada pasca bencana tumbuh di Jepang.  Beyond Tomorrow adalah contoh lain. Lembaga Swadaya Masyarakat ini diminati anak-anak muda yang bertahan dari gempa dan tsunami di Tohoku 2,5 tahun lalu.

Organisasi ini memberikan beasiswa bagi anak-anak di area terdampak bencana agar dapat mengikuti pendidikan lebih tinggi baik di Jepang maupun di luar negeri.  “Mereka pernah menjadi korban, sehingga lebih berempati.  Kami berharap mereka menjadi pemimpin yang peduli, “ kata Junko Mabuchi, manajer program Beyond Tomorrow. (sj)