Derita Warga 'Kota Mati' Tacloban Usai Dihantam Topan Haiyan

duka korban badai Haiyan di Filipina
duka korban badai Haiyan di Filipina
Sumber :
  • REUTERS/Nino Jesus Orbeta

VIVAnews - Lima hari pasca dilanda topan super Haiyan, warga kota Tacloban mulai menggila dan hilang kesabaran. Mereka menyerbu bandara lokal di kota itu mulai Selasa kemarin, 12 November 2013.

Laman Inquirer, Rabu 13 November 2013 menggambarkan betapa warga kota Tacloban sudah tak sabar ingin meninggalkan daerah itu. Itu sebabnya begitu mereka melihat dua pesawat militer C-130 mendarat di Bandara Daniel Romualdez, lebih dari tiga ribu pengungsi mencoba mendekati pesawat.

Namun, niat itu terhalang, lantaran para tentara dan polisi keburu menghalau mereka. Hanya sebagian yang berhasil masuk dan menjangkau pesawat.

"Saya memohon kepada para tentara. Saya bahkan berlutut dan meminta agar dibiarkan ikut masuk ke dalam pesawat, karena saya menderita diabetes. Apa mereka ingin saya mati di bandara ini?" ujar seorang wanita bernama Helen Cordial.

Para tentara itu, lanjut Cordial, memiliki hati batu. Cordial, merupakan salah satu dari ribuan penduduk kota Tacloban yang rumahnya hancur akibat disapu topan yang disebut oleh Warga Filipina sebagai Yolanda.

Aksi penyerbuan kedua juga terjadi di hari yang sama, namun di sore hari. Saat itu warga berusaha mendekat pesawat militer asal Amerika Serikat (AS) jenis C-130. Namun, lagi-lagi, niat itu terhalang oleh polisi.

Tak heran jika warga Tacloban ingin segera meninggalkan daerah itu. Pasalnya, Tacloban kini bagaikan kota mati. Seperti tak ada kehidupan dan banyak jasad bergelimpangan di jalan-jalan.

Menurut Kepala Biro Layanan Perlindungan Kebakaran di bagian selatan Leyte, Rafel Doron, peristiwa topan Yolanda menjadi panggilan bagi semua warga Filipina. Doron, yang tiba di lokasi sejak hari Sabtu pekan lalu, menyebut kota Tacloban, kembali ke zaman primitif.

"Uang seperti tidak memiliki arti di kota ini. Warga lebih memilih untuk memiliki makanan, air, listrik dan alat komunikasi," ungkap Doron.

Dia mengaku prihatin melihat kondisi korban selamat Topan Yolanda. Pasca diamuk topan, sebagian besar penduduk bermukim dan beristirahat di bawah sisa-sisa bangunan dan pohon yang terkena Yolanda. Penderitaan semakin bertambah, apabila hujan ikut mengguyur kota itu.

Sementara keadaan kota Tacloban, sebagian besar sudah hancur. Baik rumah, mobil dan pohon tumbang dan rusak. Pusat perbelanjaan, garasi dan toko-toko habis dijarah oleh warga yang membutuhkan makanan dan air.

Tim Doron pun mulai bekerja untuk membersihkan jalan-jalan dan mendistribusikan air bersih bagi warga kota Tacloban.

Aksi Pemberontak

Belum selesai mendistribusikan makanan, iring-iringan pembawa bantuan yang tengah menuju kota Tacloban dicegat oleh sekelompok pemberontak komunis. Hal itu terjadi pada Selasa kemarin. Peperangan pun tak terelakkan antara tentara militer dengan kelompok yang terdiri dari 15 orang itu.

"Tidak ada korban dari tentara pemerintah. Namun, kami berhasil membunuh dua anggota kelompok tersebut," ujar Letnan Kolonel Joselito Kakilala.

Peristiwa itu terjadi sekitar 240 kilometer dari Tacloban. Sebagian dari bantuan kemanusiaan itu berhasil dibawa kabur oleh tentara pemberontak. (umi)