Kedubes Iran di Lebanon Diguncang Bom Bunuh Diri, 22 Orang Tewas

Kedubes Iran di Beirut diserang bom bunuh diri.
Kedubes Iran di Beirut diserang bom bunuh diri.
Sumber :
  • Reuters

VIVAnews - Gedung Kedutaan Besar Iran di ibukota Beirut, Lebanon, jadi sasaran dua bom bunuh diri pada Selasa, 19 November 2013. Akibat serangan bom itu, 22 orang tewas dan lebih dari 140 orang terluka.

Kantor berita BBC melansir satu di antara korban tewas merupakan Atase Kebudayaan Iran, Ebrahim Ansari, yang bekerja di Kedutaan. Namun, berita tewasnya diplomat itu masih simpang siur.

Pasalnya, Duta Besar Iran untuk Lebanon, Ghazanfar Roknabadi, mengatakan salah satu diplomatnya tewas akibat serangan bom bunuh diri itu. Tetapi Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Ansari masih bertahan hidup di rumah sakit. Ansari diketahui baru satu bulan bertugas di Kedubes Iran di Beirut. 

Menurut Pejabat berwenang Lebanon, dua pelaku melakukan peledakan dengan cara berbeda. Pelaku pertama meledakkan diri ketika dia masih berada di atas motor. Sementara pelaku kedua berada di dalam mobil.

Pejabat berwenang itu menambahkan dari potongan gambar kamera pengawas menunjukkan seorang pria berlari ke arah bagian luar dinding Gedung Kedutaan sebelum akhirnya meledakkan diri. Ledakan itu merupakan ledakan pertama.

Ledakan kedua berasal dari sebuah mobil yang diparkir dua gedung dari komplek kedutaan. Pasca bom meledak, api terlihat melalap mobil yang berada di luar Gedung Kedutaan dan bagian luar beberapa gedung hancur.

Karpet yang berada di dalam lokasi gedung-gedung yang ada di dekat kompleks kedutaan dipenuhi serpihan pecahan kaca jendela darah. Namun, dinding Gedung Kedutaan tidak mengalami kerusakan yang berarti.

Menteri Kesehatan Lebanon, Ali Hassan Khalil, yang meninjau lokasi kejadian, mengaku terkejut.

"Di pintu masuk Gedung Kedutaan Iran, saya menghitung sudah terdapat enam jenazah. Saya juga melihat bagian tubuh terlempar cukup jauh. Ini merupakan kerusakan yang parah," papar Khalil.

Sekelompok yang terkait dengan Al-Qaeda mengaku menjadi otak di balik aksi dua bom bunuh diri itu. Dalam akun Twitter kelompok yang menamakan diri Brigade Abdullah Azzam, mengaku bom bunuh diri dilakukan oleh dua pahlawan Sunni asal Lebanon.

Seperti diketahui warga Sunni Lebanon telah bergabung untuk berjuang dengan kelompok oposisi di Suriah untuk menjatuhkan rezim Presiden Bashar al-Assad. Beberapa dari kelompok oposisi diketahui berafiliasi dengan Al-qaeda.

Sementara kelompok Muslim Syiah Iran merupakan pendukung utama Hizbullah Lebanon yang notabene pendukung setia rezim Assad. Assad sendiri diketahui berasal dari sekte Alawit, bagian dari heterodoks Syiah. Konflik perang saudara di Suriah kini kian melebar dan meningkatkan ketegangan sekte di Lebanon.

Dukung Rezim Assad

Sementara Dubes Roknabadi menilai serangan bom bunuh diri itu jelas ditujukan ke Gedung Kedutaannya, lantaran Iran dianggap mendukung rezim Assad.

"Siapa pun yang berani melakukan serangan semacam ini dalam situasi yang sensitif, dari faksi apa pun, tahu bahwa secara langsung atau tidak, mereka telah melayani kepentingan para zionis," ujar Roknabadi seperti dikutip Kantor Berita Reuters.

Roknabadi tidak mengatakan apa ada diplomat Iran lainnya yang menjadi korban tewas. Namun sebuah stasiun televisi Lebanon, mengutip sumber seorang diplomat di sana yang menyebut tidak ada lagi staf di dalam Gedung Kedutaan yang terluka.

Sementara Israel yang disebut Iran turut menjadi otak peledakkan itu, membantah tuduhan itu mentah-mentah. Menurut anggota parlemen luar negeri dan komite pertahanan Israel, Tzachi Hanegbi, Israel sama sekali tidak ikut serta dalam aksi itu.

"Tentu saja, Israel tidak ada kaitannya sama sekali dengan serangan semacam itu di masa lampau," kata Hanegbi.

Sementara Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menyatakan serangan bunuh diri itu sebagai tindakan pengecut. Dia bahkan melabeli aksi peledakan itu tak lebih dari tindak terorisme yang pengecut.

"Tujuan dari peledakan itu yakni mereka ingin mengendalikan situasi di Lebanon dan warga Lebanon untuk menyampaikan pesan tertentu," ujar Mikati.

Menurut laporan koresponden BBC, pesan itu jelas disampaikan kepada Iran dan kelompok Hizbullah.

Serangan itu dikecam keras oleh Pemerintah Suriah dan Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague. Menurut Hague, ada pihak tertentu yang tidak menyukai situasi stabil di Lebanon.

"Pemerintah Inggris sangat berkomitmen untuk mendukung stabilitas di Lebanon dan berharap pelaku yang bertanggung jawab terhadap aksi itu dihukum seberat-beratnya," kata Hague.

Padahal pada hari Selasa ini, Iran dan Lebanon akan mengadakan pertandingan sepak bola di Beirut. Namun, karena adanya kejadian tersebut, pertandingan terancam berlangsung tanpa penonton. (umi)