Kenangan Mahathir Muhammad Terhadap Lee Kuan Yew

Lee Kuan Yew.
Sumber :
  • REUTERS/Vivek Prakash/Files

VIVA.co.id - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad turut berduka atas wafatnya pendiri Negeri Singa, Lee Kuan Yew. Pernyataan itu disampaikan melalui blog pribadinya, yang diunggah hari ini dengan judul "Saya dan Kuan Yew".

Laman Dailymail, Jumat 27 Maret 2015 melansir, dalam tulisan itu, Mahathir mengaku blak-blakan bahwa dia bukan sahabat baik Lee. Bahkan, dalam sejarahnya, kedua pemimpin itu kerap kali saling kritik dengan kalimat pedas.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya berteman dekat dengan Lee Kuan Yew. Tetapi, saya tetap berduka atas wafatnya Lee," tulis Mahathir.

Hubungan keduanya yang tidak akur turut mencerminkan jalinan kedua negara usai terbebas dari jajahan kolonial Inggris. Dia mengatakan, kali pertama bertemu Lee, ketika menjadi anggota parlemen di tahun 1964. Saat itu, Singapura bergabung dengan Negeri Jiran di tahun 1963.

"Kami saling kritik berkali-kali ketika berdebat. Tetapi, tidak ada permusuhan, hanya cara pandang saja yang berbeda mengenai apa yang terbaik bagi negara ini," ujar pemimpin berusia 89 tahun itu.

Negeri Singa akhirnya memisahkan diri dari Malaysia pada 1965 lalu, ketika terjadi sengketa politik yang memicu perbedaan pendapat di kalangan masyarakat multi ras. Sebagian besar etnis Tionghoa, kemudian membentuk warga Singapura, sedangkan etnis Melayu bermukim di Malaysia.

Kedua negara itu sama-sama memiliki penduduk etnis India, walau jumlahnya sedikit.

Lee merupakan pemimpin berlatar belakang pengacara yang sukses mengubah Singapura menjadi salah satu negara paling makmur di dunia. Sementara itu, Mahathir merupakan pemimpin dengan latar belakang dokter dan beralih menjadi seorang politisi.

Lee Kuan Yew Ingatkan agar Pejabat Bersih dari Korupsi

Kedua pemimpin sama-sama tidak sabar, ketika mengejar misi yang berbeda untuk membuat negara mereka menjadi modern. Mahathir dan Lee juga tidak segan untuk saling melontarkan kritik tajam, ketika terjadi perbedaan pandangan.

Lee kerap mengkritik politik di Malaysia, yang berdasarkan ras. Sementara itu, Mahathir kerap menuding ayah PM Lee Hsien Loong itu membatasi kebebasan berbicara warganya.

"Saya khawatir, hampir sebagian besar isu lainnya, kami tidak bisa sepakat," ujar dia.

Kedua negara hingga kini masih terus berjuang untuk memajukan kerja sama di bidang ekonomi, kendati hubungan kedua negara dekat.

Dalam catatan Mahathir, kepergian Lee sekaligus menandai berakhirnya era pemimpin kuat usai era kolonial di kawasan Asia Tenggara. Sebelum Lee, kata Mahathir, kawasan ASEAN kehilangan pemimpin tangguh yakni Suharto yang tutup usia di 2008 lalu.

"Kepergiannya menandai akhir periode ketika mereka yang berjuang untuk kemerdekaan memimpin negara dan menyadari nilai-nilai kemerdekaan," kata Mahathir.

Pemakaman Lee akan dilakukan pada Minggu esok dan dihadiri oleh berbagai pemimpin negara. Beberapa pemimpin yang hadir antara Presiden Joko Widodo, PM Shinzo Abe, PM India, Narendra Modi, dan Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye.

Sementara itu, Amerika Serikat akan diwakilkan mantan Presiden Bill Clinton. (asp)


![vivamore="Baca Juga :"]

PM Lee: Ini Pekan yang Gelap bagi Singapura



[/vivamore]
Hujan Antar Lee Kuan Yew ke Peraduan Terakhir
Peti mati Lee Kuan Yew disemayamkan di NUS

Tidak Akan Ada Lagi Pemimpin Seperti Lee Kuan Yew

Jasad Lee Kuan Yew dikremasi pada Minggu sore kemarin.

img_title
VIVA.co.id
30 Maret 2015