JK: Kemiskinan Jadi Celah Terorisme Tumbuh Subur

Sumber :
  • REUTERS/Andrew Kelly
VIVA.co.id
img_title Pameran Mobil Terbesar Asia Tenggara GIIAS 2016 Resmi Dibuka
- Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pada Selasa pagi kemarin diberi kesempatan untuk berbicara di forum PBB yang membahas mengenai penanganan terorisme dan tindak kekerasan. Di hadapan lebih dari 100 pemimpin negara, JK menyebut aksi terorisme merupakan ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan dunia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Wapres Kalla Resmikan Pembukaan GIIAS 2016
Dalam teks pidato yang diterima VIVA.co.id pada Rabu, 30 September 2015, JK mengatakan, benih-benih terorisme justru tumbuh di lingkungan negara yang memiliki ketidakadilan sosial, marginalisasi, kemiskinan, konflik jangka panjang dan ideologi yang buruk. 

img_title Wapres: Elektrifikasi RI Terendah di ASEAN
"Aksi terorisme dilakukan karena adanya salah paham mengenai konsep jihad dan juga ideologi negara yang telah ada sebelumnya. Penghapusan paksa penguasa otoriter di sejumlah negara sayangnya sering menyebabkan hilangnya legitimasi politik dan kekosongan kekuasaan di banyak negara yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstremis,” ujar Wakil dari Presiden Joko Widodo itu.

JK mengaku sependapat dengan Obama yang menyerukan agar dalam menghadapi terorisme, dunia tidak hanya mengandalkan tenaga militer saja. Sebab, untuk anggota kelompok militan seperti Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS), mereka malah tidak takut terhadap kematian. 

Oleh sebab itu, JK menyebut, diperlukan cara-cara untuk mengembangkan strategi yang lebih komprehensif untuk membicarakan masalah tersebut, termasuk bagaimana mempromosikan moderasi dalam ideologi, agama dan politik. 

“Untuk melawan teroris, kita semua harus meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dan mempertimbangkan pentingnya pemulihan ekonomi serta perkembangan negara,” kata dia.

Maka, bagi negara yang kini tengah berkecamuk dan dilanda oleh serangan dari kelompok teroris, JK menyarankan agar tidak langsung menerima tawaran bantuan militer dari pihak asing. Sebab, cara itu belum tentu sesuai dengan keadaan dan situasi masing-masing negara. Menurut JK, bantuan militer itu bisa berbanding merugikan negara. 

“Kita semua harus meningkatkan upaya dalam atau luar negeri untuk bisa menangani mereka. Dalam pengalaman Indonesia, dibutuhkan kesatuan antara para pemegang kekuasaan dan masyarakat untuk dapat memerangi tindak terorisme dan radikal yang banyak ditemui,” ujar JK.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Dia juga mengajak para pemimpin dunia yang turut hadir dalam forum itu untuk melihat beberapa kebijakan yang telah diimplementasikan Indonesia terkait isu tersebut.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut