Demi Rp 30 Juta, Ginjal Sendiri Digadaikan

VIVAnews - Kemiskinan di Irak kini memunculkan lahan penghidupan baru: jual-beli organ tubuh. Sekitar 23 persen warga Irak hidup dalam kemelaratan dengan biaya hidup kurang dari US$ 2,2 (sekitar Rp 22.290) per hari. Angka pengangguran pun mencapai 18 persen.

Kondisi ini memaksa ratusan orang menjual ginjal atau organ lainnya melalui calo di Baghdad sepanjang 2008. Misalnya Karim Hussein. Pria asal provinsi Amara, Irak bagian selatan ini menempuh perjalanan panjang ke Baghdad untuk menjual ginjalnya seharga US$ 3.000 (sekitar Rp 30 juta).

"Saya baru mengambil pinjaman untuk membangun rumah. Saya mengira dapat membayarnya dengan kembali bekerja, namun bayaran harian pekerjaan tidak cukup untuk menghidupi keluarga saya," kata lelaki dengan delapan anak ini seperti dikutip laman stasiun televisi al-Jazeera, Senin (20/7).

Pemerintah Irak sendiri tidak melarang donasi organ. Namun jual-beli organ dianggap melanggar hukum. Hanya saja, calo-calo organ tubuh masih bebas berkeliaran.

Seorang pembeli organ, Sadik Hamza mengaku pernah membayar US$ 15.000 kepada calo untuk mendapatkan ginjal untuk sepupunya. "Hanya sepertiga yang diberikan kepada penyumbang," ujar Hamza. "Pemerintah harus menghentikan aksi para calo ini."

Pemilik sekaligus kepala bagian bedah klinik Baghdad, dr. Walid Al-Khayal mengatakan pihaknya sulit mendeteksi transaksi antara donor dan penerima organ. Klinik, menurut Al-Khayal, hanya mengecek fungsi dan kesehatan ginjal dan penyumbang. Selanjutnya organ dikirim ke Departemen Kesehatan untuk diperiksa kesesuaiannya.

"Kami tidak tahu apakah mereka menyumbangkan organ atau menjual organ itu," kata Al-Khayal.