Menilik Jaringan Spionase Korea Utara di Malaysia

Tentara Korea Utara berjaga saat perayaan ke-70 tahun Partai Pekerja di Pyongyang, Korea Utara, Sabtu, 10 Oktober 2015.
Sumber :
  • REUTERS/Damir Sagolj

VIVA.co.id – Sengketa diplomatik Malaysia dan Korea Utara masih berlangsung. Namun, ada hal lain yang juga harus menjadi perhatian khusus, yaitu keberadaan sekitar seribu warga Korea Utara di Malaysia.

img_title Kim Jong-nam Diduga Dibunuh karena Jadi Informan AS

Tewasnya Kim Jong-nam, kakak tiri dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, pada Senin, 13 Februari lalu, di Bandara Internasional Kuala Lumpur, seperti menyadarkan pemerintah Malaysia atas jaringan serta operasi intelijen Pyongyang di negaranya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebuah sumber mengatakan kepada Bernama, Jumat, 10 Maret 2017 bahwa kehadiran para agen telik sandi Korea Utara di negeri Jiran ini menyamar dengan bekerja sebagai spesialis teknologi informasi di Cyberjaya, Selangor, dan pekerja tambang bijih besi di Serawak.

img_title Korea Utara Memata-matai Warganya dari Ponsel

Sumber yang enggan disebutkan identitasnya ini menyebut kalau itu semua direncanakan untuk membentuk jaringan intelijen terorganisasi.

"Mereka membantu mengumpulkan informasi dan data secara internal. Mereka bukan orang biasa karena mereka secara khusus dilatih untuk bekerja di luar negeri oleh rezim. Intinya, mereka bekerja sekaligus mata-mata profesional," ungkapnya.

img_title Malaysia Pastikan Tak Ada Perusahaan Militer Milik Korut

Kelompok spionase ini adalah bagian dari 100 ribu warga Korea Utara yang bekerja di luar negeri di seluruh dunia. Mereka menjadi sumber berharga bagi rezim, karena mereka juga berkontribusi untuk negara, yakni mengirim uang dalam bentuk tunai yang diperolehnya dari hasil bekerja di luar negeri.

Uang dikirim ke Kedutaan Besar Korea Utara di mana mereka bekerja. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga Korea Utara yang ke luar negeri wajib melapor diri di kedutaan besar setiap bulan, dan bahkan, dipaksa untuk menjalani pembekalan sebelum mereka membaur kembali di masyarakat.

Biro 121

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Karena terhalang oleh sanksi PBB sehingga tidak bisa melakukan transaksi online. Maka, perusahaan yang mempekerjakan mereka membayar gajinya dengan mengirim uang yang disimpan dalam tas ke Kedutaan Besar Korea Utara. Mereka sendiri hanya berhak menerima tunjangan hidup," paparnya.

Sumber ini juga mengungkapkan alasan warga Korea utara lebih diutamakan bekerja sebagai IT. Menurutnya, hal ini karena jaringan mata-mata Korea Utara memiliki situs bernama Hackread, yang berbasis di Milan, Italia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut