Dokumen Rahasia AS Seputar Pembantaian 1965

Korban Kekerasan 1965 Unjuk Rasa di Komnas HAM
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

Dokumen-dokumen dalam arsip Kedutaan Besar AS di Jakarta berkisar luas, mulai dari operasi harian KBRI hingga pengamatan politik, ekonomi, kebijakan luar negeri, urusan militer, konflik antara Amerika Serikat dan Sukarno, konflik antara Angkatan Darat dan PKI, Gerakan 30 September dan pembunuhan massal yang diikuti, dan konsolidasi rezim Suharto.

img_title Isu PKI, Jokowi Diminta Kendalikan Polisi dan TNI

Meskipun sebagian besar dokumen dalam buku briefing ini menyangkut kejadian pada tanggal 30 September 1965, dan akibatnya, kami menyertakan beberapa orang lain untuk memberi pengertian tentang jangkauan dan kepentingan historis dari kumpulan yang lebih besar untuk pemahaman tentang konsolidasi yang lebih luas. dari rezim Suharto.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diberitakan oleh BBC, 18 Oktober 2017, sebagian isi dari 39 dokumen menyebutkan, bagaimana staf Kedubes AS di Indonesia saat itu menggambarkan dalam telegram mereka tentang pembunuhan yang terjadi di seantero negeri. Kata 'pembantaian,' juga 'pembunuhan tanpa pandang bulu,' tertulis dalam telegram yang mereka kirim. Penyebutan dua kalimat tersebut, memperlihatkan pengetahuan yang mendalam tentang operasi tentara Indonesia untuk "membersihkan sepenuhnya" kelompok komunis dan kelompok kiri.

img_title Panglima TNI Harap G30S/PKI Tak Terulang Lagi

BBC, mengutip salah satu tulisan dari staf Kedubes di Jawa Timur, bertanggal 28 Desember 1965, "korban dibawa dari area ramai sebelum akhirnya dibunuh dan jasadya dikuburkan, daripada dibuang ke sungai." Telegram itu juga menyebutkan, tahanan yang diduga 'komunis' juga dikirimkan kepada warga untuk 'dibantai.'

Dokumen lain yang dikumpulkan oleh Sekretaris Pertama Kedubes AS, bertanggal 17 Desember 1965, juga memuat dengan terinci pemimpin komunis di seluruh negara, dan apakah mereka sudah terbunuh atau tertangkap.

img_title Ginting Tumbang, Indonesia Gagal Total di Korea Open 2026: Tak Ada Wakil di Semifinal

Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU bisa menjadi sangat tidak nyaman membaca laporan dokumen tersebut. Sebab, salah satu telegram atau kabel menyebut nama Muhammadiyah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada Desember 1965, sebuah kabel dari konsulat AS di Medan, Sumatera, menyebutkan ulama Muhammadiyah menyampaikan kepada jemaahnya 'adalah perintah agama untuk membunuh mereka yang diduga berpaham komunis. Mereka adalah orang kafir terendah, dan harga darahnya sebanding dengan membunuh ayam.'

Telegram dari staf AS menggambarkan, ucapan ulama itu diinterpretasikan sebagai izin besar untuk melakukan 'pembunuhan.'  Sementara telegram lain menyebutkan, banyak orang yang tak berhubungan dengan partai komunis juga dibunuh oleh orang muda dari kelompok Nahdlatul Ulama karena 'alasan pribadi.'

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut