Bapak yang Lakukan Penganiayaan ke Anaknya Ditangkap

Ilustrasi tersangka kasus kejahatan diborgol
Ilustrasi tersangka kasus kejahatan diborgol
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

VIVA – Polisi mencokok Eko Soleh Supriyono (40), seorang bapak yang menganiaya anaknya sendiri Muhammad Raeyhan Irfansyah (16). Aksi penganiayaan itu berlangsung bertahun-tahun, hingga membuat korban takut melihatnya.

Pelaku ditangkap pada Kamis, 26 Mei 2022 malam. Kapolsek Tanjung Duren, Komisaris Polisi Muharom Wibisono membenarkan penangkapan ini. Pelaku ditangkap usai aparat kepolisian melakukan pencarian selama beberapa hari di tempat persembunyiannya.

"Benar kami baru saja mengamankan pelaku penganiayaan anak kandung," kata dia kepada wartawan, Jumat 27 Mei 2022.

Tapi, dirinya mengaku belum bisa merinci lebih jauh perihal penangkapan tersebut. Pasalnya, hingga kini yang bersangkutan masih diperiksa secara intensif. Dia mengatakan akan membeberkannya pasca pemeriksaan rampung.

"Nanti akan kami rillis, kami minta waktu untuk mendalami keterangan pelaku," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Muhammad Raeyhan Irfansyah (16), warga Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, telah bertahun-tahun jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh bapaknya sendiri, Eko Soleh Supriyono (40).

Terakhir kali kekerasan diterima siswa kelas 1 SMK ini pada Selasa 17 Mei dini hari lalu. Sang bapak memberikan bogem mentah ke pelipisnya sebanyak tiga kali. 

"Dan perut disabet satu kali pakai paralon," tambah Raeyhan kepada wartawan, Senin 23 Mei 2022.

Ini yang membuat Raeyhan ketakutan apalagi sampai melihat bapaknya. Bukan cuma Raeyhan. Adiknya Miftahurrizki Ananda (14) juga mengalami hal serupa. Kejadian terakhir adalah beberapa saat setelah seorang Bhabinkamtibmas, Ketua RT 09/RW 05, dan dua tetangga datang untuk menasehati pelaku. Korban mengaku, penganiayaan kepada Nanda lebih banyak, bahkan terjadi dua kali.

"Pertama, sempat ditarik (ketika Nanda sedang naik tangga) sampai jatuh dari tangga. Perut dan kaki sempat dipukul sampai (Nanda) teriak 'Ampun! Ampun'. Kedua, (dihajar) dekat kolam ikan (di dalam rumah)," jelasnya.