Pengasuh Pesantren di Banyuwangi Diduga Juga Cabuli Santri Laki-laki

Ilustrasi pemerkosaan.
Ilustrasi pemerkosaan.
Sumber :
  • U-Report

VIVA - Seorang pengasuh Pesantren di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berinisial FZ, (53 tahun), dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan terhadap beberapa santrinya yang masih duduk di bangku SMA. Sementara ini, terdata enam korban yang diduga dicabuli terlapor, terdiri dari satu korban laki-laki dan lima perempuan.

Ilustrasi kasus pencabulan

Ilustrasi kasus pencabulan

Photo :

Lapor ke Polisi

Para korban melapor ke Kepolisian Resor Kota Banyuwangi dengan didampingi aktivis Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA). Veri Kurniawan dari lembaga tersebut mengatakan, laporan diajukan ke Polresta Banyuwangi pada Jumat, 17 Juni 2022, lalu.

“Semua korban sudah dimintai keterangan,” kata Sekjen TRC PPA Veri Kurniawan dikonfirmasi VIVA pada Kamis, 23 Juni 2022, malam.

Baca juga: Diduga Cabuli 6 Santri, Pengasuh Ponpes di Banyuwangi Dipanggil Polisi

Korban Mengadu ke Guru

Dia menjelaskan, kasus itu terungkap ketika salah satu korban mengadu ke seorang guru yang mengajar di sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pesantren yang dikelola terlapor. Korban mengadu karena telah dicabuli terlapor.

“Guru itu kemudian melapor ke kepala sekolah. Karena ini menyangkut nama baik banyak pihak, juga yayasan, maka didiamkan dulu,” kata Veri.

Si Terlapor Tak Ada di Rumah

Kendati begitu, penelusuran tetap dilakukan. Ternyata, dalam penelusuran, korban tidak hanya satu orang, tapi ada juga lima korban lainnya. Para korban didampingi pihak keluarga dan aktivis TRC PPA kemudian melaporkan itu ke Polresta Banyuwangi. Beberapa hari kemudian kepolisian mengirimkan surat panggilan ke terlapor di rumahnya.

“Ternyata si terlapor ini sudah tidak ada di rumah,” kata Veri.

Keenam korban tersebut, lanjut Veri, merupakan santri yang mengabdi di rumah terlapor. Istilahnya santri dalem. Dugaan pencabulan terjadi di rumah terlapor yang berada di belakang gedung pesantren. Para korban terpaksa menuruti syahwat terlapor karena dipaksa dan diancam. Ada juga yang diiming-imingi sejumlah uang.

“Diiming-imingi mahar atau uang lima ratus ribu. Tidak suka sama suka. Dari enam korban, satu disetubuhi, yang lainnya dilecehkan,” katanya.

Pernah Jadi Anggota DPRD Banyuwangi

Informasi lain menyebutkan, selain mengelola yayasan pesantren, terlapor adalah seorang politikus yang pernah menjadi anggota DPRD Banyuwangi dan mantan anggota DPRD Jatim. Dia juga pernah menjadi pimpinan salah satu partai politik untuk cabang Banyuwangi.