Kak Seto: Polisi Perlu Periksa Saksi Lain

VIVAnews - Komisi Nasional Perlindungan Anak turun tangan untuk mendampingi 'N', bocah 10 tahun yang diduga membunuh ibu asuhnya, Hj Hetty Rohyat, istri dosen farmasi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, meminta polisi untuk menggali keterangan terhadap saksi lain untuk memastikan perbuatan bocah tersebut.

"Saya kira perlu diperiksa lagi saksi lainnya karena si anak adalah korban kekerasan," ujar Seto Mulyadi kepada VIVAnews, Kamis 15 Oktober 2009.

Menurutnya, pemeriksaan saksi perlu dilakukan untuk memperoleh titik terang latar belakang terjadinya pembunuhan tersebut.

"Orang tua asuh baik yang lama maupun yang baru perlu dimintai keterangan lagi," ujarnya.

Saat menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Timur si bocah kepada Kak Seto, mengaku rindu dengan keluarganya di Nias.

"Ayahnya sudah meninggal. Sementara ibu dan keluarganya tidak jelas keberadaannya," ujar Seto.

Selain itu si bocah juga menceritakan bahwa dirinya sering dihina dan direndahkan.

Dia bahkan dijauhkan dari kenangan keluarganya. Setiap kali menanyakan orangtuanya keluarga angkatnya tidak pernah memberi tanggapan.

"Setiap ada yang kurang benar selalu dipersalahkan," kata Kak Seto.

Rasa rindu yang tidak tersalurkan tersebut, lanjut dia, berubah menjadi dendam dan sakit hati. Seto mengaku akan terus mendampingi bocah itu. Karena si bocah sebelumnya juga menjadi korban kekerasan dan perlu dilindungi.

"Meski dia mengakui, polisi harus periksa saksi lain. Siapa tahu ada pihak lain yang membantu," pungkas Seto.

Kepada polisi, bocah berusia 10 tahun itu, memang telah mengaku melakukan perbuatan sadis terhadap ibu asuhnya.

"Dia mengaku memukul tengkuk korban sebanyak tiga kali. dengan balok kayu," terang Kapolsek.

Setelah korban terjatuh, bocah kelas satu SD itu, menyeret korban ke got belakang rumah. Selanjutnya memukul kepala korban dengan martil sebanyak dua kali.

Karena masih bergerak bocah itu lantas menusukkan pisau ke pinggang kiri korban.