Ramadan, Warga Depok Hasilkan 1.111 Ton Sampah Perhari 

Ardan Kurniawan, Kepala Unit Pelayanan Teknis TPA CIpayung, Depok.
Sumber :
  • VIVA/Zahrul Darmawan

VIVA –  Volume sampah di Kota Depok mengalami peningkatan yang cukup tinggi sejak sepekan bulan suci Ramadan. Imbasnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok semakin kelebihan beban.

img_title Teknologi Pengolahan Sampah Langsung di Sumbernya Bisa Jadi Kunci Ekonomi Sirkular

Kepala Unit Pelayanan Teknis TPA Cipayung, Ardan Kurniawan mengungkapkan, biasanya volume sampah warga Depok berkisar antara 850-900 ton/hari. Kini sejak memasuki bulan suci Ramadan, sampah yang dihasilkan mencapai kisaran 1.111 ton/hari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jadi memang cenderung dari tahun ke tahun naik sangat luar biasa pada bulan Ramadan. Ditambah nanti pada saat Idul Fitri diprediksi akan lebih meningkat lagi,” katanya saat ditemui awak media di ruang kerjanya pada Selasa, 14 Mei 2019.

img_title Warga Probolinggo Tewas Terbakar saat Mau Padamkan Kebakaran Sampah

Pemicu utama terjadinya lonjakan sampah, jelas Ardan, karena selama Ramadan daya beli masyarakat tinggi dan cenderung berprilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dengan ramainya sejumlah rumah makan atau restauran cepat saji saat waktu berbuka puasa.

Ardan mengatakan, gundukan sampah di TPA Cipayung saat ini telah mencapai 23 meter dari sebelumnya yang hanya sekira 20 meter dari permukaan tanah. “Ketinggian itu sebenernya enggak boleh lebih sampai 20 meter. Tapi kita usahakan, kita pindahkan lagi ke area yang memungkinkan, jadi tingkat ketinggian dan kemiringan masih bisa dikendalikan,” ujarnya.

img_title RI Belajar dari Tiongkok Kembangkan SDM Demi Pacu Teknologi Pengolahan Sampah

Meski volume sampah mengalami peningkatan pada bulan suci Ramadan, namun proses layanan tetap berjalan seperti biasa. “Sementara tidak ada penambahan armada, kelebihan ini mungkin dilihat dari mengangkutnya, yang biasa sekali jadi dua kali hingga tiga kali jalan atau angkut,” tuturnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ardan mengimbau, mengingat kondisi TPA yang sudah over kapasitas, sudah tidak bisa menampung lebih banyak lagi, diharapkan kepada masyarakat untuk memilah sampah mulai dari sumber, organik non organik dipilah, ditaruh di ember yang sudah disediakan dan setelah itu dikirim ke Unit Pengolahan Sampah atau UPS di masing-masing kecamatan.

Jika masyarakat kreatif, sampah non organik bisa didaur ulang sendiri, bisa jadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Kemudian jika sudah memilah, sampah yang dikirim ke TPA tinggal sampah residu atau sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang kembali.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut