Senja Kala Jalan Jaksa
- vivanews/Eduward Ambarita
Nathaniel mendapat saran membuka hotel dengan harga 'miring' dari seorang tamu kewarganegaraan Jepang. "Jadi waktu dulu orang enggak mau lah buka (penginapan) beginian. Karena ini uang (untung) kecil kan katanya, ngapain katanya, Pak Lawalata buka penginapan murah. Lalu kita berjalan lima tahun sampai 10 tahun baru orang ngeh, nih ada bisnis di sini," kata Boy. Â
Dikutip dari buku "Wisata Kota Jalan Jaksa Sebuah Kajian Sosiologi Pariwisata" karya Bra Baskoro, setelah Wisma Delima berdiri pada 1969, kemudian menjelang 1980-an, hostel dan wisma bermunculan. Begitu juga kafe dan tempat hiburan. Kawasan yang semula lengang berubah menjadi tempat keramaian. Atas inisiatif N. Lawalata jalan itu diberi nama Jalan Jaksa.Â
![]()
Untuk mempromosikan Jalan Jaksa, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Festival Jalan Jaksa. Merujuk informasi dari laman jakarta.go.id, Festival Jalan Jaksa menampilkan budaya-budaya Betawi, hiburan musik, hingga stan-stan kuliner Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang kebanyakan berasal dari warga asli Jalan Jaksa dan sekitarnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap berupaya menjadikan Jalan Jaksa sebagai destinasi wisata yang populer. Upaya terbaru, yaitu dengan mengemas ulang Festival Jalan Jaksa menjadi 'Festival Kebon Bang Jaim'.
Tidak hanya Jalan Jaksa, kawasan-kawasan sekitarnya, mencakup Kebon Sirih, Sabang, dan Wahid Hasyim, kini diintegrasikan sebagai area wisata terpadu dengan salah satu daya tarik utamanya, yaitu kuliner yang terjangkau.
Menilik dari lokasinya, Jalan Jaksa dekat dengan sejumlah destinasi wisata lainnya. Di antaranya, Monumen Nasional (Monas), Sarinah, Museum Nasional, Galeri Nasional. Dari Jalan Jaksa, sejumlah titik transportasi umum juga mudah dijangkau, seperti Stasiun Kereta Rel Listrik Gondangdia, halte TransJakarta Sarinah dan Bank Indonesia, stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Bundaran Hotel Indonesia. (asp)