Raperda DKI, Tolak PCR hingga Ambil Paksa Jenazah Corona Kena Denda

Ilustrasi razia masker
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Provinsi DKI Jakarta tentang penanggulangan COVID-19 masih terus dibahas bersama dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  (DPRD) DKI Jakarta. Draf Raperda ini ada 11 bab dan 35 pasal.

Viral Pasangan Sesama Jenis Mesum di Masjid, Ini Sanksi yang Diterima

Anggota Badan Pembentukan Peratuan Daerah (Bapemperda) DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan mengatakan, saat ini pembahasannya sudah memasuki rapat pimpinan gabungan (Rapimgab). Beberapa masukan dari beberapa fraksi dan ketua-ketua komisi, harmonisasi daripada pasal per pasal juga sudah disampaikan.

Baca juga: Pemda DKI Diminta Atur Indikator PSBB dalam Raperda COVID-19

Lapor Impor Barang Kiriman Hasil Perdagangan dengan Benar, Denda Terhindar

"Tentu dengan adanya Perda ini bisa memberikan ketegasan kepada aparat yang bertugas di lapangan dalam rangka menegakkan protokol kesehatan. Sekaligus juga yang tidak kalah penting memberikan edukasi," kata Judistira saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2020. 

Jadi seluruh perangkat, kata dia, mulai dari perangkat pemerintahan, dari gubernur sampai dengan DPRD DKI Jakarta dan juga dunia usaha itu dilibatkan semua dalam rangka memberikan edukasi pada masyarakat. Khususnya akan pentingnya 3M yaitu menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker. 

Yuk Pahami Aturan Barang Kiriman Hasil Perdagangan

Selanjutnya, ada beberapa sanksi yang belum diatur dalam Pergub. "Ada batasan dalam perda itu dalam kita menerapkan sanksi. Sanksi itu kan maksimal kalau dalam perda itu Rp50 juta, kemudian sanksi kurungan itu kan 6 bulan," katanya. 

Selain itu, menurut dia, ada beberapa hal yang diatur misalnya, orang menghindar atau menolak untuk dilakukan pemeriksaan baik rapid test maupun PCR itu dikenakan sanksi Rp5 juta. 

"Kenapa Rp5 juta, untuk efek jera aja bukan untuk mencari uang dari situ. Tapi membuat masyarakat bisa mematuhi apa yang menjadi aturan di DKI Jakarta ini," katanya. 

Selanjutnya, ada misalnya orang yang dengan memaksa mengambil jenazah konfirmasi COVID-19 itu juga ada denda sanksinya itu Rp5 juta. "Kemudian kalau dengan ancaman pengambilan jenazahnya itu Rp7,5 juta," ujarnya. 

Sedangkan, untuk sanksi denda orang yang tak menggunakan masker bagi pekerja sosial bisa dikenakan denda Rp250 ribu. 

"Iya, jadi ada kerja sosial atau membayar denda Rp250 ribu. Kemudian ada perdebatan juga kemarin kan terjadi seorang diri di mobil itu tidak memakai masker kena denda juga," ujarnya. 

"Itu juga kita pertanyakan kita sampaikan ke eksekutif dalam membuat perda ini lagi-lagi tidak disampaikan kejelasan kepada masyarakat, terjadi perdebatan tapi akhirnya kita sepakati bersama," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya