Bukan Makam Yang Dibongkar, Tapi Pendopo

Santri Gunakan Senjata Tajam Cegah Penggusuran Makam Mbah Priok
Santri Gunakan Senjata Tajam Cegah Penggusuran Makam Mbah Priok
Sumber :
  • VIVAnews/Tri Saputro

VIVAnews – Pemerintah Provinsi DKI tidak akan membongkar makam Mbah Priok, melainkan hanya gapura dan pendopo yang ada di areal makam.

“Sedangkan makam Mbah Priok tidak akan dibongkar dan justru akan dibuat monumen agar lebih bagus lagi dan tetap dapat dikunjungi warga,” kata Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Kominfo Pemprov DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, Rabu 14 April 2010.

Cucu menambahkan pemerintah juga tidak pernah melarang warga untuk mengunjungi makam itu.

Kendati demikian, pengikut Habib Ali Zaenal Abidin bin Abdulrahman Al Idrus dan Habib Abdullah Sting, sebagai ahli waris atau pengelola makam, tetap menolaknya. Mereka menilai pembongkaran itu tidak sah.

Ketika tadi pagi petugas Satpol PP akan mengeksekusi, pengikut habib menghalau petugas dengan serangan bom molotov, batu, senjata tajam, dan kayu.

Akibatnya, sekitar dua puluh anggota petugas Satpol PP menderita luka serius, bahkan dua orang putus tangannya, dan harus dilarikan ke RSUD Koja. Korban juga jatuh di pihak pendukung eksistensi makam.

Bentrok mulai tenang setelah pemerintah dan pengelola makam sepakat berunding. Hingga siang ini, perundingan masih berlangsung.

Tadi pagi, Wakil Walikota Jakarta Utara Atma Senjaya mengatakan penertiban gapura dan pendopo di makam Mbah Priok ini sudah sesuai dengan instruksi gubernur DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan.

Sebab, kata dia, bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, sesuai dengan hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi.

Sementara itu, Mbah Priok punya cerita sendiri mengenai mengapa sampai begitu dihormati warga. Dia merupakan salah satu tokoh penyiar agama Islam yang berasal dari Pulau Sumatera. Saat akan sampai ke wilayah Batavia, perahunya terkena badai.

Namun, dia selamat karena menemukan periuk dan akhirnya berhasil menepi di Batavia. Sejak itu dia tinggal di Batavia dan menyiarkan agama Islam. Tak lama kemudian, kawasan itu pun akhirnya dinamai Tanjung Priok.