Ada yang Berbeda dari Senen Jaya

Pedagang kue subuh di Senen Jaya mulai berdagang kembali di lokasi baru.
Sumber :
  • ANTARA/Mentari Dwi Gayati

Jakarta — Sejarah Senen Jaya tak lepas dari perjalanan panjang kawasan Senen sebagai salah satu pusat ekonomi tertua di Jakarta. Didirikan pada masa kolonial Belanda, kawasan ini awalnya berfungsi sebagai pasar tradisional yang buka setiap hari Senin—asal nama “Senen” itu sendiri. Seiring perkembangan kota, Senen tumbuh menjadi simpul perdagangan penting yang mempertemukan berbagai kalangan: pedagang, pekerja, hingga seniman yang mencari ruang ekspresi di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

img_title Kaki Diborgol dan Dirantai, 3 Pekerja di Jakpus Disekap 3 Pekan! Sudah Bayar Rp50 Juta Tapi Tak Dibebaskan

Pada dekade 1970-an hingga 1990-an, Senen Jaya menjadi pusat perbelanjaan modern yang populer di kalangan warga Jakarta. Ia menjadi simbol dinamika urban, tempat di mana budaya pop, perdagangan tradisional, dan interaksi sosial berpadu dalam satu ruang. Meski sempat mengalami kebakaran dan revitalisasi, kawasan ini tetap bertahan sebagai salah satu denyut nadi ekonomi rakyat Jakarta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kini, Senen Jaya tidak hanya dikenal sebagai kawasan niaga, tetapi juga sebagai ruang yang berupaya menjaga kesinambungan antara tradisi dan modernitas. Aktivitas dini hari di Sentra Kue Subuh menjadi saksi bagaimana tradisi kuliner lokal terus hidup di tengah modernisasi kota. Dari kue basah, jajanan pasar, hingga bahan dasar kue, semua berpadu menjadi mozaik ekonomi dan budaya yang khas.

img_title Kasus Bocah 6 Tahun Koma Buntut Dipersekusi Hingga Kesetrum, Polisi Selidiki Unsur Kesengajaan

Tahun 2025 ini, ada yang berbeda dari wajah Senen Jaya. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, kawasan ini menjadi tuan rumah Festival Kue Lapis Jakarta 2025, hasil kolaborasi antara Senen Jaya dan Rose Brand. Mengusung tema “Rasa Nusantara, Warna Indonesia”, festival ini menghadirkan kue lapis sebagai simbol keberagaman dan kebersamaan bangsa.

img_title Bocah 6 Tahun di Senen Jakpus Sampai Koma Buntut Dipersekusi Hingga Tersengat Listrik

Menurut Annisa Nugraheni, Manajer Pemasaran Pusat Perbelanjaan Senen Jaya Blok 1 & 2, festival ini diharapkan menjadi wadah pelestarian kuliner Nusantara. “Kue lapis adalah simbol manisnya persatuan. Melalui festival ini, kami ingin mengingatkan masyarakat bahwa keberagaman adalah kekuatan fundamental bangsa,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi, Rabu 15 Oktober 2025.

Sementara itu, Michael Setiaputra, Manajer Pemasaran PT Sungai Budi (Rose Brand), menilai kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menjaga tradisi kuliner. “Festival ini bertepatan dengan HUT RI ke-80, menjadi ajang refleksi akan nilai kebersamaan yang terwujud dalam keberagaman,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut