Cerita Warga Ibu Kota yang Hidup Berdamai dengan Banjir

Pemukiman liar di bantaran Kali Krukut
Pemukiman liar di bantaran Kali Krukut
Sumber :
  • VIVAnews/Erick Tanjung

VIVAnews - Setiap musim hujan tiba, Jakarta selalu diterjang banjir. Sungai-sungai di Jakarta tak lagi mampu menahan luapan air. Sungai semakin dangkal karena dipenuhi sampah. Kondisi tersebut diperparah padatnya rumah-rumah liar yang berjejer di bantaran kali Ibu Kota.

Banikem, warga bantaran Sungai Krukut, Jalan Wijaya Timur Dalam, RT 02 RW 04, Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan mengaku setiap kali hujan datang, rumahnya selalu terendam. Sebab rumahnya hanya berjarak tiga meter dari sungai. Kebanjiran sudah menjadi rutinitas tahunan bagi wanita 64 tahun itu.

"Di sini sudah biasa banjir setiap tahun, jangankan hujan deras, tidak hujan saja terkadang banjir. Karena aliran sungai ini dari Bogor, kalau di sana hujan deras, meluap ke sini," kata Banikem dalam perbincangan dengan VIVAnews di rumahnya, Jumat, 15 November 2013. Nenek empat cucu ini menuturkan, hujan deras Rabu sore kemarin mengakibatkan air sungai meluap dan menggenangi pemukiman warga.

Wanita asal Wonogiri, Jawa Tengah ini tinggal di pinggir Kali Krukut sejak empat puluh tahun lalu. Mulanya ia menyewa sepetak tanah dengan sebuah pondok kecil satu ruangan.

Kemudian mendiang suaminya membangun rumah jadi dua lantai secara bertahap. Namun, sudah setahun ini ia terpaksa pindah dan menumpang bersama anaknya. Ia harus pindah karena pemilik tanah meminta haknya.

"Dulu di kawasan sungai ini lahan kosong, hanya ada tiga rumah. Masih banyak pohon dan empang. Kemudian banyak warga yang bikin rumah, tapi masih jauh dari kali," ucap dia mengisahkan.

Buang sampah si sungai


Meski sudah disediakan tiga tempat sampah di dekat kantor Kelurahan Petogogan, warga sekitar memilih membuang sampah rumah tangganya ke sungai. Warga setempat malas membuang sampah di samping kantor kelurahan itu karena lokasinya jauh tempat tinggal mereka.

"Masih banyak warga, saat mau pergi ke pasar mereka sekalian buang sampahnya ke sungai," katanya.

Dulu, kata dia, sekitar tahun 1980-an, Sungai Krukut dalam, banyak warga yang mandi di sana. Namun kini sungai yang berhulu di Bogor ini jadi dangkal dan sangat kotor.

"Dulu airnya bening, batu-batunya kelihatan. Sekarang banyak sampah yang menumpuk. Makanya kalau hujan air meluap," katanya.

Susanti Wulansari, anak menantu Banikem, mengatakan meski air sungai meluap dan memasuki rumah, mereka tidak mau mengungsi. Warga lebih memilih bertahan di lantai dua rumahnya.

"Kalau hanya air setinggi lutut warga di sini tidak mengungsi, itu sudah biasa, jadi tidak kaget," ujar Susanti. (eh)