Persaudaraan 212 Minta Moratorium Media Sosial

Aksi Kampanye Anti Hoax di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

VIVA – Penasihat Persaudaraan 212, Kapitra Ampera menilai bahwa polisi maupun pemerintah atau otoritas terkait perlu melakukan moratorium atau penutupan sementara media sosial. Hal itu dinilai perlu dijalankan, demi menghempang hoax dan mencegah penyebaran fitnah dan ujaran kebencian.

img_title Bareskrim Bongkar Situs Judi Online Berkedok Spam Komentar di Medsos, 6 Orang Jadi Tersangka

"Polisi harus bikin moratorium medsos ini, ditutup sebulan dua bulan dan dibuat standarisasi dan validasi bagaimana menggunakan medsos yang tidak melanggar hukum," kata Kapitra dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di tvOne, Selasa 6 Maret 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menilai, pada saat ini kala tak ada cara baku menggunakan media sosial, maka akan gampang digunakan dengan tak bertanggung jawab. Hal itu disampaikan Kapitra menyusul penangkapan anggota MCA oleh polisi.

img_title 620 Anak Terpapar Radikalisme Lewat Media Sosial Sepanjang 2026

"Ini kan sekarang ya tidak baku, bisa diterjemahkan (macam-macam)," lanjutnya.

Namun, Pakar Komunikasi sekaligus aktivis media sosial, Ade Armando menilai bahwa permintaan tersebut kurang masuk akal.

img_title 7 HP Terbaik untuk Reseller yang Dipakai 3–5 Tahun, Harganya Murah dan Memiliki Penyimpanan Besar

Menurutnya, adanya fitnah dan hoax tidak lantas harus direspons dengan penutupan media sosial untuk sementara. Ade menilai bahwa langkah polisi sudah benar dengan menangani para penyebar hoax, seperti Muslim Cyber Army (MCA).

"Kalau moratorium enggak mungkin dilakukan. Saya percaya, harapan Bapak (Kapitra) mulia tapi Telegram ditutup saja itu heboh," kata Ade.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menilai, penegakan hukum untuk saat ini bisa menjadi jawaban.

"Ini bahaya, kalau terus-menerus kita diadu domba dengan hoax yang sistematis disebarkan tiap hari. Kalau sekarang, bisa disetop polisi, saya yakin akan menyelamatkan Indonesia," lanjut Dosen tersebut.

Ilustrasi aplikasi.

Bukan Cuma Media Sosial, 14 Aplikasi Ini Punya Risiko Tinggi untuk Anak

Bukan hanya media sosial, 14 aplikasi seperti game, platform video, komunikasi, dan belanja masuk kategori risiko tinggi bagi anak. Simak daftar dan alasannya.

img_title
VIVA.co.id
16 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut