Mengenang Pahlawan Lewat Jalan
- VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Jalan Soekarno-Hatta
Nama proklamator Soekarno-Hatta dijadikan nama jalan, antara lain di Bandung, Jawa Barat; Semarang, Jawa Tengah; Bandar Lampung; Pangkal Pinang.
Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama RI.
Jalan Dewi Sartika
Jalan Dewi Sartika terdapat di sejumlah wilayah, di antaranya di Jakarta; di Ciputat, Tangerang; di Depok, Jawa Barat.
Dewi Sartika merupakan pahlawan wanita dari Jawa Barat. Ia puteri dari pasangan Nyi Raden Raiapermas dan Raden Somanagara. Pada 1904, Dewi membuka Sekolah Istri (sekolah perempuan) pertama se-Hindia Belanda. Semangat Dewi membangkitkan sejumlah sekolah Istri lainnya di wilayah Pasundan.
Jalan Otto Iskandardinata
Nama pahlawan nasional Otto Iskandardinata diabadikan menjadi nama jalan di sejumlah daerah, antara lain di Jakarta, Bandung, Tangerang, Samarinda, Subang, Tasikmalaya, Bogor.
![]()
Otto Iskandardinata merupakan keturunan bangsawan Sunda. Ia lahir di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 1897. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung, periode 1921-1924.
Otto yang dijuluki “Si Jalak Harupat” merupakan tokoh yang berani. Sebagai anggota Volksraad, ia sering mengkritik pemerintah Hindia Belanda.
Jalan Pierre Tendean
Salah satu pahlawan revolusi ini namanya digunakan untuk nama sejumlah jalan. Di antaranya, di Jakarta; Manado, Sulawesi Utara; Banyuwangi, Jawa Timur; Semarang, Jawa Tengah; Makassar, Sulawesi Selatan.
Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andries Tendean merupakan putra pasangan Dr. A.L Tendean dan Cornet M.E. Orangtuanya ingin Pierre menjadi dokter, tapi dia ingin menjadi tentara. Ia berhasil bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat di Bandung, Jawa Barat, pada 1958. Pierre menjadi korban tragedi 30 September 1965. Ia ditetapkan sebagai pahlawan revolusi pada 5 Oktober 1965.
Jalan Daan Mogot
Jalan sepanjang 27,5 kilometer ini membentang dari Grogol, Jakarta hingga Sukarasa, Tangerang. Nama jalan ini diambil dari nama pahlawan Elias Daniel Mogot atau dikenal sebagai Daan Mogot. Dia lahir di Manado, Sulawesi Utara, 28 Desember 1928.
Daan Mogot adalah pejuang kemerdekaan Indonesia dan mantan anggota serta pelatih PETA di Bali dan Jakarta, pada 1942-1945. Dia gugur dalam usia 17 tahun, saat pertempuran melawan Jepang di Hutan Lengkong, Tangerang.