Habib Bahar Jadikan Hadis Nabi sebagai Dasar Aniaya Anak di Bawah Umur

Terdakwa penganiayaan anak di bawah umur, Bahar bin Smith, usai sidang di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Kamis, 2 Mei 2019.
Terdakwa penganiayaan anak di bawah umur, Bahar bin Smith, usai sidang di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Kamis, 2 Mei 2019.
Sumber :
  • VIVA/Adi Suparman

VIVA – Terdakwa penganiayaan anak di bawah umur, Bahar bin Smith, menggunakan hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Az Zahirah sebagai dasar pembenar penganiayaan terhadap dua santrinya.

Menurut Habib Bahar, begitu dia akrab disapa, kedua korban--Cahya Abdul Jabbar dan Muhamad Khoerul Umam Al Mudzaqi atau Zaki--bersalah karena mengaku-ngaku sebagai habib, maka harus dipukul keras.

Penasihat hukum Bahar, Aziz Yanuar, menjelaskan bahwa alasan itu hal wajar karena tindakan kedua korban telah merugikan kliennya beserta keluarganya.

“Tadi kan pendapat pribadi Habib Bahar itu menurut ketentuan yang dia pahami, dan itu ranahnya saya tidak masuk-masuk ke sana,” ujar Aziz usai sidang di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Kamis, 2 Mei 2019.

Menurutnya, meski ada potensi berlawanan, alasan itu wajar dinyatakan karena orang yang menyandang gelar habib bukanlah seperti warga biasa.

Pada dasarnya, kata Aziz, perbuatan kedua korban yang mengaku-ngaku habib dianggap merugikan pihak lain, yakni Habib Bahar bin Smith dan keluarganya. "Itu merugikan nama baik Habib Bahar sendiri."

Tindakan kedua korban, katanya, juga merugikan jemaah Bahar di Bali. “Artinya tindak-tanduk orang itu berarti mencerminkan wibawa sendiri dari segi tindakan, kepribadian. Lalu merugikan pihak lain, yaitu jemaah. Jemaah ini merasa dirugikan. Di Bali mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar.”