Pemburu dan Pejuang Penyu
- VIVA / Harry Siswoyo (Jambi)
Sebab, berdasarkan laporan para penyelamat penyu, mereka sudah berapa kali bersinggungan dengan pemburu. Malam itu, kami sedang beruntungnya saja. Bertemu pemburu penyu dan bisa mengobrol banyak mengenai ulah haram mereka.
Perjuangan Edi
"Dulu saya marah, buat apa merawat penyu. Uangnya enggak ada," kata Siti Juariah. Perempuan 31 tahun ini adalah istri dari Edi Suswanto. Suaminya lah yang kini menjadi sosok penyelamat penyu dari Desa Pulau Baru di Kabupaten Muko Muko Bengkulu.
Sungut Siti memang cukup beralasan. Maklum sejak tahun 2015, Edi yang sehari-hari hidup dari montir justru tiba-tiba memiliki hobi lain yakni menetaskan telur penyu.
Apalagi, saat itu seluruh biaya perawatan pakan dari penyu justru dari kantong pribadi Edi. Bahkan, yang lebih membuat kesal Siti adalah Edi sampai rela menjual motornya hanya untuk merawat penyu.
"Saya juga dibuat repot. Karena, harus memberi makan tukik-tukik ini setiap hari. Uang dapur jadi berkurang," tambah Siti.
Namun demikian, seiring waktu. Hingga tibalah di tahun 2017, kerja keras tanpa pamrih Edi itu pun mendapat sorotan dari pemerintah. Setiap telur yang ditetaskan Edi dan istri, kini mendapat kompensasi sebesar Rp15 ribu.
Uang itulah yang kini membuat lega Siti. Setidaknya kini, ia tak perlu bertengkar mulut lagi dengan Edi soal kebutuhan dapur. Siti pun lambat-lambat mulai ikut jatuh cinta dengan tukik-tukik yang ditetaskan suaminya.
Total tercatat, dari upaya Edi dan Siti serta delapan warga lain yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Alam Konservasi Penyu Muko Muko (KPA KPM) yang mereka dirikan, sebanyak 14.368 butir telur penyu berhasil ditangkarkan.
Dari jumlah itu, sebanyak 10.107 butirnya telah menetas. Dan hebatnya lagi kini, hingga Mei 2019 di rumah penyu yang dibangun di atas tanah milik Edi, masih ada 35 ribu tukik lagi yang siap dilepasliarkan.
"Kalau bukan kita siapa lagi yang melakukannya," jawab Edi menjelaskan alasannya mengapa memilih menjadi penyelamat penyu di desanya.
Hari itu, di gelimang surya yang menghangatkan pasir di sepanjang Pantai Batu Kumbang, semangat Edi dan Siti serta warga yang menyelamatkan penyu langka, menjadi sebuah pelajaran berharga. Sebanyak 100 ekor tukik pun dilepaskan, sebagai tanda persahabatan kami dengan Edi dan KPA KPM. Edi dan tukik-tukik itu masih meniti jalan panjang untuk hidup dan menginspirasi.