Merapi Semburkan Awan Panas Letusan

Gunung Merapi menyemburkan awan panas terlihat dari Sleman, DI Yogyakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ranto Kresek

VIVA – Gunung Merapi mengeluarkan awan panas letusan (APL) pada Minggu, 22 September 2019 pukul 11.26 WIB. APL ini memiliki tinggi kolom hingga 800 meter dari puncak Gunung Merapi. Awan panas letusan ini juga menyebabkan hujan abu tipis di daerah Barat Daya Gunung Merapi.

img_title Asyiknya Keliling Dunia di Merapi Park Yogyakarta

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida memberikan keterangan, bahwa APL berbeda dengan awan panas guguran (APG) yang selama ini sering terjadi di Gunung Merapi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"APG disebabkan oleh runtuhnya material kubah lava baru secara gravitasional atau tanpa kecepatan awal yang signifikan. Sedangkan pada APL, runtuhnya material kubah lava akibat dari tekanan gas dari dalam," ujar Hanik dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 23 September 2019.

img_title Replika Landmark Terkenal Dunia di Merapi Park Yogyakarta

Hanik menjelaskan, seiring dengan berlangsungnya suplai magma, gas vulkanik diproduksi secara berkelanjutan. Hanik menyebut adanya dinamika tekanan, gas dapat tersumbat dan terakumulasi di bawah kubah lava dan terlepas secara tiba-tiba bahkan mendobrak kubah lava sehingga runtuh menjadi awan panas

"Adanya peningkatan tekanan gas ini dapat terdeteksi oleh stasiun pemantauan. Dari pukul 00:00 sampai dengan pukul 12:00 terjadi 29 kali gempa MP dan 14 kali gempa hembusan. Jumlah gempa MP dan hembusan ini tergolong tinggi yang merepresentasikan peningkatan tekanan dan intensitas pelepasan gas vulkanik," ujarnya menjelaskan.

img_title Heboh! Mayat Wanita Terikat Lakban Ditemukan di Kontrakan Padang

"Ini konsisten dengan data pemantauan suhu kubah lava sekitar 1 jam menjelang letusan yang menunjukkan adanya kenaikan suhu pada beberapa titik pada kubah lava sekitar 100 derajat celsius. Sedangkan data pemantauan menurun dan tenang kembali setelah kejadian APL sampai dengan saat ini," sambung Hanik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hanik menerangkan, baik APG maupun APL masih berpotensi terjadi. APG dan APL, lanjut Hanik masih akan terjadi karena suplai magma masih berlangsung yang ditunjukkan oleh masih terjadinya gempa-gempa dari dalam, seperti gempa VTA, VTB dan MP dalam jumlah yang signifikan.

"Ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan dari aktivitas erupsi saat ini masih sama dengan sebelum-sebelumnya, yaitu luncuran awan panas dan lontaran material erupsi di dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi," ujar Hanik

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut