Ada Tagar #TurunkanJokowi di Tengah Demo Mahasiswa, Bikinan Siapa?

Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berunjuk rasa di gedung DPR RI
Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berunjuk rasa di gedung DPR RI
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

VIVA – Aksi demonstrasi mahasiswa yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia menuntut pemerintah dan DPR RI agar membatalkan sejumlah revisi dan peraturan perundang-undangan baru maupun yang akan disahkan.

Beberapa revisi yang menjadi tuntutan mahasiswa di antaranya Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Perppu KPK untuk membatalkan UU KPK, RUU Pemasyarakatan, RUU Pertanahan, dan RUU Minerba.

Tuntutan mahasiswa ini tak hanya menggema di jalanan melalui selebaran maupun ajakan rencana aksi di kampus-kampus. Lebih dari itu, jagat maya juga riuh dengan munculnya tagar-tagar untuk turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi.

Namun di tengah aksi gerakan mahasiswa, muncul tagar #TurunkanJokowi di jagat Twitter Indonesia. Padahal, mahasiswa tidak membawa isu turunkan Jokowi dalam tuntutannya.  

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Manik Margana Mahendra, menegaskan dalam aksinya, mahasiswa tidak terkait dengan politik praktis. Aksi ini murni pergerakan karena sejumlah RUU yang merugikan masyarakat.

Drone Emprit membuat analisis tentang tagar #TurunkanJokowi yang menggema di tengah riuhnya aksi mahasiswa terkait sejumlah RUU yang bermasalah. Drone Emprit memulai analisis dengan membandingkan pola tagar #TurunkanJokowi dengan #GejayanMemanggil.

>

Tagar #GejayanMemanggil diketahui merupakan aksi damai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta di Simpang Tiga Gejayan, Yogyakarta, Senin, 23 September 2019  Aksi yang viral di media sosial itu murni aspirasi mahasiswa untuk mengkritik kondisi pemerintahan saat ini, sama sekali tak ditunggangi oleh kelompok tertentu.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi dalam cuitannya di Twitter, @ismailfahmi, menjelaskan dari data tren 22-24 September 2019, kedua tagar tampak #GejayanMemanggil lebih dahulu muncul dengan volume yang tinggi.

"Tagar #TurunkanJokowi baru muncul jam 11:00 tgl 23 Sept. Dan tiba-tiba naik pesat pukul 21:00. Menjelang tengah malam," cuit akun @ismailfahmi di Twitter, Selasa pagi, 24 September 2019.

Dibandingkan dengan #GejayanMemanggil volume #TurunkanJokowi masih jauh lebih kecil. Tagar #GejayanMemanggil di-mention sebanyak 206.385 kali. Sementara tagar #TurunkanJokowi hanya di-mention 22.745 kali.

Analisa Drone Emprit soal tagar #TurunkanJokowi Vs #GejayanMemanggil

Foto: Drone Emprit Twitter @ismailfahmi

Untuk top 5 influencer tagar #TurunkanJokowi antara lain @candraidw_md dengan total engagements 4.828, @opposite6890 dengan 2.909 engagements, @localhost911 dengan 2.118 engagements, @do_ra_dong dengan 1.173 engagements, dan @Aisyadiaa dengan 926 engagements.

Analisa Drone Emprit soal tagar #TurunkanJokowi Vs #GejayanMemanggil

Foto: Drone Emprit Twitter @ismailfahmi

Data Social Network Analysis (SNA) mengungkap dua cluster besar di balik akun-akun yang terafiliasi dengan tagar #TurunkanJokowi dan #GejayanMemanggil. Dimana tagar #TurunkanJokowi berada di satu cluster besar dengan akun-akun yang berbeda dari akun penggerak #GejayanMemanggil

Tagar #TurunkanJokowi disuarakan sejumlah akun yang memiliki pengikut cukup banyak. Berbeda dengan akun penggerak #GejayanMemanggil yang merupakan individu mahasiswa dan masyarakat. Analisa Drone Emprit, tagar #TurunkanJokowi ternyata bukan bagian dari mereka yang mengangkat #GejayanMemanggil. Seperti buatan oposisi.

"Kita zoom SNA kedua tagar tersebut. Di antara kedua cluster tampak relasi yang kuat. Menandakan dukungan oposisi yang besar kepada gerakan mahasiswa #GejayanMemanggil. Namun oposisi ternyata juga punya tagar baru #TurunkanJokowi. Akun mahasiswa tidak mengamplifikasi tagar ini," tulis akun @ismailfahmi.

Analisa Drone Emprit soal tagar #TurunkanJokowi Vs #GejayanMemanggil

Foto: Drone Emprit Twitter @ismailfahmi

"Closing. Gerakan mahasiswa seperti ini bakal mudah disusupi. Narasi baru di luar tuntutan mahasiswa bisa muncul baik di media sosial, atau saat orasi di lapangan. Mahasiswa perlu waspada, cerdas, dan tetap damai," ucapnya. (ase)