Soal Pria Tak Berbusana di Maps, Tim Verifikasi Google Dipertanyakan

Aplikasi Google Maps.
Aplikasi Google Maps.
Sumber :
  • Pexels

VIVA – Direktur Eksekutif Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh, Teuku Farhan, mempertanyakan tim verifikasi Google yang tidak bisa mendeteksi adanya kesalahan di aplikasi navigasi Google Maps, yang memuat foto pria bugil di gambar pencarian dengan kata kunci Banda Aceh.

Menurut dia, Google menerapkan sistem partisipasi pengguna dengan menu kirim masukan. Namun, hal yang berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) tetap masuk dan lolos ke publik.

“Yang disayangkan kenapa bisa lolos ke publik, apakah tidak ada tim verifikasi dari Google. Seharusnya sebagai perusahaan profesional dan bertaraf dunia sudah selayaknya memiliki tim verifikasi,” kata Farhan saat dikonfirmasi, Senin, 4 November 2019.

Sebagai referensi awal bagi pengguna internet, kata Farhan, jangan sampai Google turut menjadi sumber penyebaran hoaks dan rasisme. Kemudian, menurut dia, Google tidak bisa menyerahkan seluruhnya kepada pengguna untuk mempereteli bahan yang hendak dimasukkan ke dalam aplikasi.

Apalagi, lanjut Farhan, Googgle hanya mengandalkan mesin untuk verifikasi. “Manusia memiliki rasa, kebijaksanaan. Hal ini yang tidak pernah dimiliki oleh mesin. Google jangan hanya mengandalkan mesin,” ujar Farhan.

Menurut dia, Google juga harus memberikan reward kepada masyarakat yang melaporkan kelemahan sistemnya. Bukan hanya memberikan reward bagi penemu celah yang tidak aman dalam sistem (bug/Vulnerability Reward).

Sebelumnya, warga Aceh dihebohkan dengan gambar pria tanpa busana, yang ada di aplikasi navigasi Google Maps.