Anggaran Naik tapi Tak Jamin Dongkrak Mutu Pendidikan, Ini Faktornya

Sekjen Gerindra Ahmad Muzani
Sumber :
  • Istimewa

VIVA – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani mengatakan anggaran pendidikan yang tinggi dan cenderung naik setiap tahun belum menjamin peningkatan mutu. Persoalan yang kompleks di sektor pendidikan jadi faktor yang harus diperhatikan.

img_title Anggaran Pendidikan Tembus Rp574,2 Triliun, Pemerintah Siapkan Skema Baru Rp824 Triliun pada 2027

Muzani menyampaikan hal ini saat berbicara di forum Darul Hikam Education Conference 2020 di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis, 5 Maret 2020. Ia bilang memang ada kenaikan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia melanjutkan dengan contohnya seperti pada 2018 sebanyak Rp444 triliun dari total APBN. Pun, 2019 naik sebesar Rp492 triliun. Namun, angka kenaikan ini belum juga menggenjot perbaikan mutu pendidikan.

img_title Muktamar NU Minta Anggaran Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG Mulai 2027

Muzani mengibaratkan makin besar anggaran pendidikan ternyata bertambah kompleks masalahnya. Persoalan pendidikan yang getol dikeluhkan mulai kesejahteraan guru honor di daerah, infrastruktur yang tak merata sampai masalah sertifikasi guru.

"Pendidikan masih dikeluhkan di sana sini. Hal itu belum menjadikan kualitas pendidikan semakin baik malah membuat guru makin sibuk dengan proses administrasi agar dapat tambahan honor dari sertifikasi guru," jelas Sekjen DPP Gerindra itu.

img_title Muzani: Pesan untuk Seluruh Rakyat, Jangan Saling Hujat!

Menurutnya, dikira persoalan pendidikan karena kekurangan dana. Tapi, ternyata persepsi ini keliru.

“Tadinya kita menyangka kekurangan biaya pendidikan jadi problem dan sebab rendahnya mutu pendidikan. Pemerintah pun mengeluarkan dana bos yang setiap waktu semakin besar, dan setiap waktu semakin tinggi dana bos yang digelontorkan pemerintah, tapi itupun belum menyelesaikan problem pendidikan," ujarnya 

Tak hanya itu, Muzani menyinggung Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) sekaligus kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil. Bagi dia, meski berlatar belakang pendidikan guru agama yang pernah menjadi profesi selama hidupnya ternyata menjadi menteri.

“Dari proses panjang berpendidikan itu akhirnya kita berkesimpulan bahwa faktor utama yang tidak boleh kita lupakan adalah faktor ketuhanan, faktor tuhan tidak boleh kita sepelekan dalam pendidikan di Indonesia,“ jelas Muzani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kemudian, ia menyoroti kembali tanggungjawab negara muntuk menjamin kualitas pendidikan lebih baik. Jangan terus berdalih kualitas pendidikan tertinggal dengan alasan terbatasnya dana pendidikan.

“Sesungguhnya pendidikan kita itu adalah tanggung jawab negara, negara bertanggung jawab atas seluruh proses pendidikan di wilayah Indonesia, tapi kenapa negara mengatakan dana pendidikan itu terbatas,” tuturnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut