Jokowi Dinilai Tak Berdaya Hadapi Mafia Pasar

Politisi Partai Gerindra Ferry Juliantono.
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

VIVAnews - Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ferry Juliantono, menanggapi pernyataan Presiden Jokowi terkait berbagai barang kebutuhan pokok jelang puasa ini yang merangkak naik hingga dapat menyulitkan rakyat di tengah wabah Covid-19. Jokowi menyebut kenaikan harga merupakan permainan tidak bertanggung jawab yang sulit diketahui jajarannya.

img_title Polda Metro Geledah Tiga Lokasi Terkait Dugaan Mafia Tanah PTSL di Bogor, Sita Dokumen hingga Mesin Ketik

"Agak aneh kalau presiden masih pada tingkat curiga, padahal sudah jelas harga yang banyak melambung ini karena ada permainan dari mafia pasar yang mengatur distribusi barang atau produk, yang berkongkalikong dengan jaringan pabrikan swasta," ujar Ferry yang juga merangkap Ketua Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Rabu, 22 April 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, praktek kongkalikong ini terjadi bukan karena permintaan terhadap barang yang melonjak pesat, tapi lebih diakibatkan adanya potensi suplai (pasokan) yang terganggu disertai terjadinya impor yang tersendat.

img_title Prabowo Sampaikan Ucapan Spesial untuk Ulang Tahun ke-65 Jokowi, Diunggah Langsung Lewat Instagram

"Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para mafia pasar untuk mencari keuntungan setinggi-tingginya, dengan menetapkan kenaikan mencapai 50 persen seperti pada harga gula yang biasanya di angka Rp12.000 sampai dengan Rp13.000, saat ini bisa mencapai Rp19.000, dan pemerintah tidak berdaya menghadapi mafia pasar," kata Ferry.

Dia melanjutkan kalangan pabrikan gula swasta itu sebenarnya sudah mempunyai jaringan distribusi dari tingkat whole seller, distributor, hingga agen. Namun, Ferry menyesalkan pemerintah tidak memiliki kendali terhadap jaringan tersebut oleh karena peran pemerintah memang sengaja 'melumpuhkan diri dari sejak hulunya sampai hilir'.

img_title Harga Pangan Hari Ini 15 Juni 2026: Cabai Rawit Tembus Rp79 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp29.800 Menurut Data Terbaru PIHPS

"Sebagai dampaknya lebih serius lagi, pabrik gula justru mati satu persatu atau malah beralih dengan dikuasai pihak swasta. Sementara itu, pabrik milik pemerintah akibat mesinnya ada yang dibuat di zaman Belanda sehingga tidak efisien dan selalu kalah bersaing," ujar Ferry.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak cuma itu, lanjut Ferry, di sisi hilirnya, keberadaan Bulog pun ikut dilumpuhkan ibarat perusahaan distributor biasa yang tidak lagi memiliki kuasa dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok penting atau sembako.

"KUD-KUD juga dimatikan secara perlahan, serta pasar-pasar tradisional nasibnya lebih parah karena dinamikanya terpepet oleh retail modern yang punya akses langsung ke pabrikan. Ya, akhirnya, sempurnalah penguasaan distribusi oleh mafia ini," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut