Pandemi Corona dan Multiplier Effect Saat Harga Solar Diturunkan
Selain itu, penurunan harga solar juga akan memangkas biaya pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar ini, meski hanya sekitar sekitar 20 persen saja penggunaan solar. Penurunan harga batu bara dan gas yang mencapai 50 persen, tentu juga akan membuat biaya pembangkit listrik turun drastis. Tarif listrik menjadi murah. Tidak seperti saat ini, yang justru banyak dikeluhkan masyarakat yang merasa membayar listrik jauh lebih besar saat pandemi corona.Â
Selain tarif listrik, lanjut Bambang Haryo, harga gas yang merosot hingga di bawah US$2 per MMBtu seharusnya membuat harga pupuk juga turun lebih dari 50 persen, mengingat pabrik pupuk di dalam negeri masih membeli gas pada harga US$7 per MMBtu. Penurunan harga-harga tadi akan berdampak besar pada stabilitas ketahanan dan keamanan nasional.Â
“Penurunan harga solar, tarif listrik dan gas ini akan menjadi insentif yang sangat efektif bagi pelaku usaha dan masyarakat di tengah kesulitan ekonomi akibat corona," ujarnya.
Ancam Konektivitas
Pemerintah kembali diingatkan, apabila harga solar tidak segera diturunkan bisa menghancurkan sektor transportasi beserta sistem konektivitas nasional yang sangat kompleks.Â
Sebagai negara kepulauan dengan luas 5 juta km2, Indonesia dinilai memiliki sistem antarmoda atau konektivitas yang sudah terbangun sedemikian rupa. Kondisi ini berbeda dengan negara kontinen, seperti Australia atau China.Â
“Kalau transportasi sampai kolaps, untuk menghidupkannya lagi akan susah," ujarnya.Â
Karena itu, pemerintahan Presiden Jokowi diharapkan bertindak cepat dan cerdas dalam menyelamatkan ekonomi nasional, salah satunya dengan memanfaatkan kesempatan menurunkan harga solar ketika harga minyak dunia sedang sangat murah.Â