Kisruh Pembiayaan Organisasi Penggerak, Begini Penjelasan Kemendikbud

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril
Sumber :
  • Kemendikbud

VIVA – Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tiga skema pembiayaan. Selain murni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terdapat skema pembiayaan mandiri dan dana pendamping (matching fund).

"Sejumlah organisasi penggerak akan menggunakan pembiayaan mandiri dan matching fund," kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2020.

Ia menjelaskan, pembiayaan POP dapat dilakukan secara mandiri atau berbarengan dengan anggaran yang diberikan pemerintah. "Organisasi dapat menanggung penuh atau sebagian biaya program yang diajukan," katanya.

Baca: Setelah Muhammadiyah, Kini Maarif NU Mundur dari Program Kemendikbud

Meski begitu, Kemendikbud tetap melakukan pengukuran keberhasilan program melalui asesmen dengan tiga instrumen. Pertama, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter (SD/SMP).

Kedua, instrumen capaian pertumbuhan dan perkembangan anak (PAUD). Ketiga, pengukuran peningkatan motivasi, pengetahuan, dan praktik mengajar guru dan kepala sekolah.

Tak hanya itu, proses seleksi yayasan atau organisasi yang memilih skema pembiayaan mandiri dan matching fund juga dilakukan dengan kriteria yang sama dengan para peserta lain yang menerima anggaran negara.