PGRI Minta Program Organisasi Penggerak Menteri Nadiem Ditunda

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

VIVA – Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Huzaifa Dadang menegaskan PGRI tidak ikut bergabung program organisasi penggerak (POP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 

img_title Nadiem Langsung Ajukan Kasasi Meski Hukumannya Sudah Dipangkas: Saya Sedih Keputusannya Tetap Bersalah

PGRI menilai kriteria pemilihan dan penetapan peserta program organisasi penggerak selama ini tidak jelas. Sehingga dibutuhkan evaluasi secara menyeluruh. Apalagi perlu kehati-hatian dalam penggunaan anggaran POP yang besar, yakni Rp595 miliar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Disamping itu, kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini telah meluluhlantahkan semua sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Krisis ini juga berimbas pada kehidupan siswa dan orang tua.

img_title Banding Dikabulkan! Hukuman Nadiem Makarim Dipangkas Jadi 9 Tahun, Uang Pengganti Turun Rp548 Miliar

"Atas dasar itu ,tahun ini kita tidak ikut bergabung organisasi penggerak dengan pertimbangan tadi," kata Huzaifa Dadang di ILC tvOne, Selasa, 28 Juli 2020.

Baca juga: Muhammadiyah-NU Mundur dari Progam OP, PAN Minta Nadiem Dievaluasi

img_title Sidang Banding Nadiem Makarim Digelar Hari Ini, Akankah Vonis 10 Tahun Berubah?

PGRI, terang Huzaifa, meminta Kemendikbud agar menunda program organisasi penggerak karena bermasalah. Selanjutnya, anggaran POP bisa dialihkan untuk membantu infrastruktur siswa, guru dan sekolah demi menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi seperti ini.

"Program ini ditunda dulu anggarannya untuk bantu program pendidikan jarak jauh," ujarnya. 

Menurut Huzaifa, PGRI memandang perlunya prioritas program yang sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kompetensi dan kinerja guru melalui penataan pengembangan dan mekanisme keprofesian guru berkelanjutan. 

Sebelumnya Mendikbud  Nadiem Anwar Makarim meminta maaf pada NU, Muhammadiyah dan PGRI terkait polemik POP. 

Dengan penuh rendah hati. Saya memohon maaf atas segala keprihatinan yang timbul dan berharap agar tokoh dan pimpinan NU, Muhammadiyah dan PGRI bersedia untuk terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program yang kami sadari betul masih belum sempurna," kata Nadiem dalam video dari Kemendikbud di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2020.

Nadiem sendiri sangat mengapresiasi sebesar-besarnya atas masukan dari pihak NU, Muhammadiyah, dan PGRI mengenai program organisasi penggerak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ketiga organisasi ini telah berjasa di dunia pendidikan bahkan Jauh sebelum negara ini berdiri. Tanpa pergerakan mereka dari Sabang sampai Merauke identitas budaya dan misi dunia pendidikan di Indonesia tidak akan terbentuk," katanya.

Tentunya, lanjut dia, tanpa dukungan dan partisipasi semua pihak mimpi bersama untuk menciptakan pendidikan berkualitas untuk penerus bangsa akan sulit tercapai.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut