Jusuf Kalla: Robert Tantular Perampok

VIVAnews - Akhir Januari lalu, mantan pemilik Bank Century, Robert Tantular mengaku mengirim surat protes ke Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century. Robert juga mempersoalkan proses penangkapannya dan proses penahanan di Rutan Mabes Polri.

Surat itu pun ditembuskan ke Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Bank Indonesia. "Termasuk soal penangkapan dia (Robert). Selama ini dikabarkan dia ditangkap di rumah. Itu salah, dia ditangkap di kantornya, 25 November 2008," jelas salah satu pengacara Robert, Bambang Hartono saat dihubungi VIVAnews, Senin 1 Februari 2010.

Robert juga mempermasalahkan perintah penangkapan yang dikeluarkan wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla. Dia menilai Kalla telah mengintervensi kerja aparat penegak hukum.

Kalla sendiri menyatakan perintah yang dia berikan langsung kepada Kepala Kepolisian Indonesia, Bambang Hendarso Danuri itu wajar. Kalla menyatakan bahwa setiap korban pencurian pasti akan melapor ke polisi dan minta polisi menangkap pencurinya.

"Kalau tahu ada orang yang mencuri, apa yang akan dilakukan, meminta pencurinya ditangkap kan? Nah, yang saya lakukan, perintah kepada Kepolisian untuk menangkap orang itu," kata Kalla kepada wartawan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis, 18 Februari 2010.

Kalla meminta Kepolisian menangkap Robert pada 25 November 2008. Robert kemudian ditangkap saat sedang bersiap-siap pergi ke Singapura bersama keluarganya.

"Semua terbukti kan, bahwa semua menyebut dia perampok, dia merampok," ujar Kalla.

Dalam rapat pemeriksaan Pansus, 20 Januari lalu, mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji mengatakan sebelum perintah Kalla keluar, Kepolisian telah memiliki data awal terkait Bank Century. Informasi tersebut berkaitan dengan kredit fiktif dan pengelolaan dana fiktif.

Susno mengungkapkan saat Robert dibekuk, dia dan direksi Century mengaku bahwa pemberian kredit tidak lewat jalur hukum dan tidak ada agunan.