BIN Jelaskan Fenomena Tes Swab COVID-19 Positif Jadi Negatif

BIN menggelar pemeriksaan kesehatan deteksi dini penyebaran COVID-19 dengan metode swab terhadap para pegawai Kementerian Sosial di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. (Foto ilustrasi)
BIN menggelar pemeriksaan kesehatan deteksi dini penyebaran COVID-19 dengan metode swab terhadap para pegawai Kementerian Sosial di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. (Foto ilustrasi)
Sumber :
  • VIVA/Vicky Fazri

VIVA – Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto angkat bicara terkait pertanyaan akurasi hasil tes usap atau swab test COVID-19 yang dilakukan lembaganya selama ini. Dalam melakukan proses uji spesimen, lanjut dia, laboratorium BIN menggunakan dua jenis mesin reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT PCR).

“Yaitu, jenis Qiagen dari Jerman dan jenis Thermo Scientific dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat Lab BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium, telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec (Singapura),” kata Wawan melalui keterangan tertulis, Senin 28 September 2020.

Baca juga: Innalillahi, Dirjen KKP Aryo Hanggono Meninggal Diduga Akibat COVID-19

BIN, lanjut dia, telah melakukan kerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman untuk standar hasil. Sehingga layak digunakan untuk analisis RT-PCR yang sesuai standar. 

“BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes yang lebih tinggi dibandingkan institusi atau lembaga lain yang tercermin dari nilai CT qPCR (ambang batas bawah 35, namun untuk mencegah OTG lolos screening maka BIN menaikkan 40). Termasuk melakukan uji validasi melalui triangulasi tiga jenis gen yaitu RNP/IC, N DAN ORF1ab,” paparnya.

Wawan menambahkan, dewan analis strategis Medical Intelligence BIN, termasuk jaringan intelijen WHO menjelaskan fenomena hasil tes swab positif menjadi negatif bukan hal yang baru, dan dapat disebabkan oleh: 

1.    RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit bahkan mendekati hilang sehingga tak lagi terdeteksi. Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut.