Cerita Dua Perempuan Pejuang Ekonomi Garis Depan Penerima Banpres

Suwanti pengusaha UMKM kerajinan tangan (tengah) dan Iis Suminar, pengusaha UMKM kuliner pecel dan gado gado dipandu oleh Mochamad Achir, praktisi media dan komunikasi menjadi pembicara dalam dialog produktif.
Suwanti pengusaha UMKM kerajinan tangan (tengah) dan Iis Suminar, pengusaha UMKM kuliner pecel dan gado gado dipandu oleh Mochamad Achir, praktisi media dan komunikasi menjadi pembicara dalam dialog produktif.
Sumber :

VIVA – Hantaman pandemi COVID-19 membuat pelaku usaha, khususnya pengusaha mikro berjuang ekstra keras. Dua diantaranya Suwanti dan Iis Suminar.

Adalah Suwanti, seorang pelaku usaha kerajinan tangan dan souvenir pesta dari Bogor. Dia mengaku selama pandemi COVID-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, membuat usahanya macet.

“Selama pandemi, omset mengalami penurunan drastis. Waktu Maret sampai Mei saat PSBB pesta dilarang, pesanan souvenir banyak dibatalkan sehingga stok menumpuk,” katanya dalam Dialog Produktif “Pejuang Ekonomi Garis Depan, Wirausahawan Usaha Mikro” di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) pada Senin (9/11).

“Pernah sampai kami obral, namun daya beli masyarakat juga kurang, jadi barang tidak laku,” kisahnya, ketika dirinya mendengar ada Bantuan Presiden untuk pelaku UMKM, segera dia mendaftar.

Tidak ada kendala yang dialaminya ketika proses pendaftaran karena dirinya sudah berpengalaman dan bergabung di grup UMKM.

Begitu pula dengan Iis Suminar, pelaku usaha kuliner pecel dan gado-gado yang juga berasal dari Bogor, Jawa Barat. Dia mengaku berkat  Bantuan Presiden (Banpres) Produktif Usaha Mikro, usahanya dapat terus berjalan.

“Uang Banpres dipakai untuk modal beli minyak gula terigu, dan lain-lain,” katanya. Iis juga mengambil KUR Super Mikro senilai Rp10 juta dan digunakan untuk mengembangkan usahanya.