Penerapan Protokol Kesehatan di Pengungsian Merapi Disorot

Salah satu posko pengungsian Gunung Merapi.
Sumber :
  • VIVA/ Fajar Sodik.

VIVA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta penerapan protokol kesehatan diberlakukan dengan ketat di semua posko pengungsian Gunung Merapi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran COVID-19 di posko pengungsian.

img_title 108 Pengungsi Gempa NTT Meninggal, Mendagri: Saya Akan Tanya Gubernurnya!

"Saya datang ke sini (pengungsian Balerante) untuk memastikan semua prosedur protokol kesehatan dilakukan di sini," kata Deputi Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, saat mengunjungi tempat pengungsian sementara di Balai Desa Balerante, Kemalang, Klaten, Sabtu, 14 November 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca juga: Update Gunung Merapi, BPPTKG: Selama Sepekan Kegempaan Meningkat

img_title Malam-malam Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer

Lantas, dia mengungkapkan semua warga yang akan masuk ke posko pengungsian untuk cuci tangan terlebih dahulu. Selain itu, jumlah yang berkunjung juga harus dibatasi untuk menghindari terjadinya kerumunan orang.

"Harapannya agar semua nanti yang ketemu dengan pengungsi itu bisa interaksi dengan protokol kesehatan. Kalau bicara tetap harus pakai masker," ujarnya.

img_title 94 Pengungsi Gempa di NTT Meninggal, DPR: Pelajaran Buat Pemerintah, ke Depan Harus Lebih Siap

Selain itu, ia juga menyinggung soal pemberian bantuan kepada pengungsi. Bantuan tersebut sebaiknya tidak langsung diserahkan kepada pengungsi, namun menyerahkannya terlebih dahulu kepada petugas organisasi pengurangan resiko bencana (OPRB) yang bertugas di posko pengungsian.

"Sebaiknya mekanisme menyerahkan bantuan diserahkan kepada kawan-kawan dari OPRB yang berjaga di sini. Barang itu pun nanti harus di-disinfektan dulu seperti dilap dengan disinfektan sebelum diberikan kepada pengungsi, kecuali yang menyerahkan saudaranya," katanya.

Menurut Lilik, prosedur seperti itu diberlakukan untuk menjaga supaya jangan sampai di tempat pengungsian muncul klaster baru. Sebabnya, sebagian besar pengungsi merupakan kelompok rentan yang dampaknya bakal luar biasa jika mereka tertular COVID-19.

"Mohon dukungannya semua pihak, termasuk pejabat apakah dari pusat, daerah yang datang ke sini untuk membantu di sini juga (menerapkan) protokol kesehatan," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti belum adanya sekat-sekat di posko pengungsian. Sekat atau bilik tersebut berfungsi untuk menjaga jarak antara pengungsi satu dengan pengungsi lainnya.

"Dari Klaten sendiri saya lihat memang belum ada sekat-sekatnya. Tapi ini sedang diusahakan oleh Pak Kepala Desa untuk bikin sekat yang masing-masing dipakai satu keluarga supaya tidak bercampur dan terjaga protokol kesehatannya," kata dia.

Bupati Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT) Herybertus Nabit

Bupati Manggarai Akui Kewalahan Tangani Trauma Pengungsi Gempa, Butuh Bantuan

Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Herybertus Nabit, mengakui pemerintah daerah kewalahan dalam menangani psikososial warganya yang mengungsi akibat gempa bumi

img_title
VIVA.co.id
19 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut