Penerapan Protokol Kesehatan di Pengungsian Merapi Disorot

Salah satu posko pengungsian Gunung Merapi.
Sumber :
  • VIVA/ Fajar Sodik.

VIVA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta penerapan protokol kesehatan diberlakukan dengan ketat di semua posko pengungsian Gunung Merapi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran COVID-19 di posko pengungsian.

img_title 9.765 Gempa Susulan Guncang NTT, 188 Ribu Warga Masih Bertahan di Pengungsian

"Saya datang ke sini (pengungsian Balerante) untuk memastikan semua prosedur protokol kesehatan dilakukan di sini," kata Deputi Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, saat mengunjungi tempat pengungsian sementara di Balai Desa Balerante, Kemalang, Klaten, Sabtu, 14 November 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca juga: Update Gunung Merapi, BPPTKG: Selama Sepekan Kegempaan Meningkat

img_title Dua Atlet Pengungsi Bakal Tampil di Asian Games 2026, Bawa Nama Khusus

Lantas, dia mengungkapkan semua warga yang akan masuk ke posko pengungsian untuk cuci tangan terlebih dahulu. Selain itu, jumlah yang berkunjung juga harus dibatasi untuk menghindari terjadinya kerumunan orang.

"Harapannya agar semua nanti yang ketemu dengan pengungsi itu bisa interaksi dengan protokol kesehatan. Kalau bicara tetap harus pakai masker," ujarnya.

img_title Waka Komisi V DPR: Kebutuhan 5.000 Pengungsi Gempa NTT Sudah Tertangani dengan Baik

Selain itu, ia juga menyinggung soal pemberian bantuan kepada pengungsi. Bantuan tersebut sebaiknya tidak langsung diserahkan kepada pengungsi, namun menyerahkannya terlebih dahulu kepada petugas organisasi pengurangan resiko bencana (OPRB) yang bertugas di posko pengungsian.

"Sebaiknya mekanisme menyerahkan bantuan diserahkan kepada kawan-kawan dari OPRB yang berjaga di sini. Barang itu pun nanti harus di-disinfektan dulu seperti dilap dengan disinfektan sebelum diberikan kepada pengungsi, kecuali yang menyerahkan saudaranya," katanya.

Menurut Lilik, prosedur seperti itu diberlakukan untuk menjaga supaya jangan sampai di tempat pengungsian muncul klaster baru. Sebabnya, sebagian besar pengungsi merupakan kelompok rentan yang dampaknya bakal luar biasa jika mereka tertular COVID-19.

"Mohon dukungannya semua pihak, termasuk pejabat apakah dari pusat, daerah yang datang ke sini untuk membantu di sini juga (menerapkan) protokol kesehatan," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti belum adanya sekat-sekat di posko pengungsian. Sekat atau bilik tersebut berfungsi untuk menjaga jarak antara pengungsi satu dengan pengungsi lainnya.

"Dari Klaten sendiri saya lihat memang belum ada sekat-sekatnya. Tapi ini sedang diusahakan oleh Pak Kepala Desa untuk bikin sekat yang masing-masing dipakai satu keluarga supaya tidak bercampur dan terjaga protokol kesehatannya," kata dia.

Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1.000 meter di atas puncak

Selain Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Semeru dan Merapi Perlu Diwaspadai

Pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meminta masyarakat mewaspadai Gunung Semeru dan Gunung Merapi di tengah aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia

img_title
VIVA.co.id
8 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut