Tifatul Sembiring Kini Bergelar Datuk

VIVAnews - Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman, siang ini, Minggu 28 Februari 2010, resmi bergelar 'Datuak di Minang'.

Tifatul Sembiring menyandang gelar 'Datuak Tumangguang' dari Suku Koto, sedangkan Irman Gusman dinobatkan sebagai 'Datuak Rajo Nan Labiah' dari Suku Pisang.

Tifatul dikukuhkan sebagai datuak di Kenagarian Tabek Sarajo, Kecamatan IV koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sedangkan pelewaan gelar datuak Ketua DPD RI dilakukan dalam acara adat' Baralek Gadang Batagak Pangulu' di Medan Nan Bapaneh, Kenagarian Guguk.

Pemberian gelar adat ini dihadiri Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, pejabat daerah, serta sejumlah perantau Minang. Secara adat, pelewaan gala (gelar) ini juga dilakukan pada 46 tokoh Minang.

Menurut Budayawan Minang Wisran Hadi, pengukuhan seseorang sebagai datuak diharapkan dapat memberikan fungsi positif bagi daerah. "Namun karena yang dikukuhkan ini pejabat politik, tidak bisa dinafikan kalau hal ini berbau politik," kata Wisran Hadi pada VIVAnews.

Wisran enggan berkomentar banyak tentang kental aura politik dalam pengangkatan kedua tokoh Minang tersebut sebagai datuak.

"Bagaimanapun mereka pantas untuk menjadi kepala suku bagi sukunya masing-masing. Apakah ini berbau politik, hal itu wajar saja orang menilai demikian karena mereka tokoh politik," ujar peraih SEA Write Award tahun 2000 dari kerajaan Thailand ini.

Menurutnya, Tifatul dan Irman berhak menyandang gelar datuak dari sukunya masing-masing yang memiliki fungsi untuk memajukan kaumnya. Di Minang, ujarnya, ada tiga gelar datuak berdasarkan pemberiannya: turun temurun berdasarkan matrilineal seperti yang diperoleh Tifatul; gelar dari pihak ibu yang diberikan ke anaknya; gelar penghormatan.

Gelar penghormatan ini pernah diberikan keluarga kerajaan Pagaruyuang pada ketua MPR Taufiek Kiemas. "Gelar sangsako ini tidak akan mengurangi arti dari datuak itu sendiri. Biasanya diberikan pada tokoh-tokoh nasional," kata Wisran Hadi.

Laporan: Eri Naldi| Padang