Ansor Jatim Siap Rangkul Eks Anggota FPI

Massa FPI membersihkan sampah usai aksi unjuk rasa di Kedubes Prancis
Sumber :
  • VIVA/ Kenny Putra

VIVA –  Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Syafiq Syauqi alias Gus Syafiq, menyampaikan pihaknya siap merangkul eks anggota Front Pembela Islam (FPI). Hal ini sebagai respons kebijakan pemerintah yang resmi membubarkan dan melarang aktivitas kegiatan FPI.

img_title Singgung Ucapan Gus Dur, Gelar Pahlawan Soeharto Dinilai Sudah Lewati Banyak Pertimbangan

"Kita sangat terbuka lebar dengan siapa pun, apalagi teman-teman FPI yang sebenarnya juga mazhab-nya sama, ahlussunnah wal jamaah, bahkan (mazhabnya dalam hukum Islam) Syafi'i," kata Gus Syafiq di sela-sela acara Haul Gus Dur ke-11 di kantor Nahdlatul Ulama Jatim di Surabaya pada Rabu malam, 30 Desember 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gus Syafiq mencontohkan keterbukaan Ansor dengan satu peristiwa bergabungnya beberapa anggota FPI ke Barisan Serbaguna Ansor (Banser) di Sampang, Madura, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi beberapa bulan lalu, setelah insiden pengadangan Ma'ruf Amin. 

img_title GP Ansor-Banser Gelar Puncak Hari Santri Nasional di Makam Kiai Abbas Buntet Cirebon

"Maka saya kira kita bisa bersama-sama, bergandengan tangan, membangun negeri ini," ujarnya.

Untuk diketahui, FPI resmi dibubarkan Pemerintah berdasarkan keputusan bersama enam pejabat setingkat menteri. Hal ini disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD di kantornya, Rabu, 30 Desember 2020.

img_title Banser Diserang Usai Pengajian, LBH Ansor Desak Polda Metro Jaya Segera Bertindak

Dalam penjelasannya, Mahfud menegaskan jika FPI dilarang melakukan segala bentuk aktivitas di Indonesia.

Sementara itu, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward Omar Sharif Hiariej, mengatakan keputusan pemerintah ini dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya, ditemukan 35 orang anggota FPI terlibat tindak pidana terorisme.

"Berdasarkan data sebanyak 35 orang terlibat tindak pidana terorisme dan 29 orang telah dijatuhi pidana. Di samping itu 206 orang melakukan tindak pidana umum, dan 100 di antaranya telah dijatuhi pidana,” ujar Edward.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa pemerintah juga mendapatkan laporan adanya tindakan pelanggaran hukum lainnya seperti melakukan razia atau sweeping di tengah masyarakat.

“Menurut penilaian terjadi pelanggaran ketentuan hukum, seperti pengurus dan anggota kerap kali melakukan razia atau sweeping di tengah masyarakat yang mana itu tugas aparat penegak hukum,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan beberapa alasan tersebut, kata dia, pemerintah melalui beberapa kementerian dan lembaga memutuskan untuk menghentikan kegiatan FPI.

“FPI tidak terdaftar organisasi kemasyarakatan sesuai perundangan sesuai dan secara de jure telah bubar,” katanya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut