Periode Peralihan Musim, Waspada Fenomena Cuaca Ekstrem

Waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan ombak besar
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

VIVA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan analisis dinamika atmosfer laut yang menunjukkan fenomena La Nina kemungkinan masih berlangsung hingga Mei 2021. Fenomena La Nina ini diprediksi muncul intensitas lemah hingga normal.

img_title Prakiraan Cuaca Hari Ini, Daftar Wilayah yang Berpotensi Diguyur Hujan

Dengan kondisi tersebut, masih dapat berkontribusi pada peningkatan massa udara basah dan lembab di sekitar wilayah Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saat ini fenomena Monsun Asia masih cukup aktif yang mengakibatkan aliran massa udara dari wilayah Belahan Bumi Utara (BBU) masih dapat berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 11 Maret 2021.

img_title El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Ungkap Kapan Hujan Meluas di Indonesia

Ia menjelaskan, monsun Asia mulai memasuki periode pelemahan pada akhir Maret 2021. Hal ini mengindikasikan periode puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia mulai berakhir.

"Sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021," ujarnya.

img_title Mengapa Siang Hari Terasa Lebih Panas dan Menyengat Akhir-akhir Ini? BMKG Ungkap Penyebabnya

Kata dia, salah satu ciri umum kejadian cuaca saat periode peralihan musim adalah adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat. Kondisi ini seperti pagi-siang umumnya cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik diikuti dengan pembentukan awan yang signifkan. Lalu, hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang-sore hari.

Menurut dia, selama periode peralihan musim, ada beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai. Fenomena itu seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang, puting beliung, waterspout, dan hujan es.

Untuk hujan es merupakan fenomena yang umum terjadi selama periode peralihan musim. Fenomena ini dipicu oleh pola konektifitas massa udara dalam skala lokal-regional yang lebih signifikan selama periode peralihan musim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Hujan es umumnya dapat terjadi dari sistem awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi dengan kondisi labilitas udara yang signifikan sehingga dapat membentuk kristal es di awan dengan ukuran yang cukup besar," ujarnya.  

Pun, fenomena downdraft yaitu aliran massa udara turun dalam sistem awan. Fenomena ini biasanya terjadi di sistem awan Cb terutama pada saat fase matang dapat menyebabkan butiran es dengan ukuran yang cukup besar dalam sistem awan Cb tersebut. Kemudian, turun ke dasar awan hingga keluar dari awan menjadi fenomena hujan es.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut