Gus Yahya: NU Bukan Batu Loncatan Nyapres

Gus Yahya Cholil Staquf
Gus Yahya Cholil Staquf
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – KH Yahya Cholil Staquf, memantapkan hati untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 pada Muktamar ke-34 di Lampung, bulan Desember mendatang. Ia digadang-gadang akan bersaing dengan incumbent, KH Said Aqil Siradj untuk memimpin kendali PBNU. 

Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini maju di pencalonan orang nomor satu ormas Islam terbesar di Indonesia dengan segudang gagasan dan harapan. Lahir dan besar di lingkungan NU membuat pria kelahiran 16 Februari 1966 ini fasih tentang organisasi NU dan perkembangannya.

Kiai asal Rembang ini dua periode menjabat Katib Aam Syuriah PBNU, pernah menjabat Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di periode pertama pemerintahan Jokowi-JK, Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan menjadi delegasi dalam sejumlah pertemuan tokoh agama Internasional. 
 
Gus Yahya merupakan kakak dari Menteri Agama saat ini, Yaqut Cholil Qaumas, mengenyam pendidikan formal di pesantren. Ia pernah nyantri di Pesantren Al-Munawwir Krapyak di Yogyakarta dibawah asuhan KH Ali Maksum. Gus Yahya melanjutkan jenjang perguruan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada.

VIVA berkesempatan mewawancarai Gus Yahya seputar pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU di rumah kontrakannya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Kamis, 4 November 2021. Apa saja gagasan Gus Yahya untuk NU kedepan, kritiknya terhadap kepengurusan Said Aqil hingga klarifikasi soal kontroversi kunjungannya ke Israel bisa disimak dalam wawancara berikut ini:

Apa motivasi Anda ingin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU di Muktamar NU
Lampung? 

Saya masuk dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah 10 tahun, sudah dua periode. Tapi sebetulnya keterlibatan saya dengan NU sudah lama sekali, saya sudah ikut terlibat dalam muktamar walaupun hanya sebagai penonton, tapi ikut di arena muktamar itu sejak tahun 79, itu saya masih kelas 1 SMP, itu Muktamar ke-29 di Semarang. Jadi seumur hidup NU itu jadi bagian hidup saya, tidak pernah terlepas dalam pergulatan pemikiran dan pergulatan mental saya selama ini.  

Saya melihat saat ini NU menghadapi tantangan baik secara domestik dan internasional. Nah, untuk menghadapi tantangan itu ada beberapa hal yang harus dilakukan NU tidak bisa ditunda-tunda, yang intinya dengan konsolidasi organisasi yang komprehensif. 

Saya punya gagasan-gagasan pemikiran tentang itu, dan saya dulu pernah melakukan strategi untuk melakukan konsolidasi di organisasi Gerakan Pemuda Ansor sejak 2011 lalu dan berhasil. Ansor berhasil kita transformasikan sebagai organisasi yang koheren dan solid. 

Nah, sekarang saya kira waktunya Nahdlatul Ulama sebagai organisasi, ada komunitas, ada jam'iyyah-nya harus segera dilakukan konsolidasi dengan baik karena tantangan ke depan luar biasa berat. 

Maka saya menawarkan gagasan ini, dan menawarkan diri saya untuk mengeksekusinya. Ini yang selalu saya sampaikan kepada para kiai, para pengurus NU di berbagai tingkatan, bahwa ini bukan soal saya ingin menjadi tokoh, pimpinan atau apa, ini soal saya melihat ada pekerjaan yang harus dilakukan dan saya tahu bagaimana mengerjakannya, saya sudah pernah melakukan pekerjaan semacam itu dan berhasil, dan saya menawarkan diri untuk melakukannya kepada NU. 

Memangnya NU sekarang belum konsolidasi?

Realitas NU sekarang ini bahwa hubungan antara berbagai tingkatan kepengurusan dalam NU ini masih belum rapi dan belum ada logika koordinasi yang baik. Sekarang ini pengurus di tingkat cabang-kabupaten masing-masing punya kegiatan tapi masing-maisng tidak saling mengetahui apa yang dilakukan. Begitu juga dari tingkat cabang ke tingkat wilayah, provinsi, tingkat provinsi tidak tahu apa yang dilakukan cabang, PBNU juga begitu. 

Sehingga ini menjadikan gerak NU ini menjadi tidak bisa tampak sebagai strategi yang sama. Setiap elemen organisasi melakukan sendiri-sendiri apa yang bisa mereka lakukan dan banyak diantara mereka yang tidak melakukan apa-apa karena kekurangan resources dan leverage untuk melakukan kegiatan. Sekarang waktunya kita harus menata itu. 

Kalau tantangan eksternal NU apa saja?

Tantangan eksternalnya untuk domestik, Indonesia, kita melihat kedepan ini ada ancaman polarisasi atas dasar identitas karena dinamika politik, seperti yang pernah kita alami pada waktu lalu dalam pilpres terakhir, bahwa polarisasi politik identitas yang luar biasa.

Nah, kemarin itu Nahdlatul Ulama tidak bisa menjadi aktor yang mampu menjembatani polarisasi itu, karena sebagai pihak, sebagai kontestan di dalam persaingan politik itu. Padahal kalau polarisasi identitas ini dibiarkan terus berlanjut ini berbahaya sekali bagi keutuhan bangsa. Makanya Nadlatul Ulama ini harus kita kembalikan fungsinya sebagai penyangga keutuhan bangsa ini. Itu diperlukan dua hal. 

Pertama, positioning harus diubah. NU tidak boleh jadi pihak yang berkompetisi tapi selalu berada pada posisi yang bisa menengahi apapun yang menjadi sengketa kehidupan bangsa ini. Kedua, NU harus mampu hadir sebagai kekuatan transformatif dan sebetulnya ada kekuatan itu. NU ini punya 521 cabang di seluruh Indonesia di setiap kabupaten ada pengurusnya. Bahkan ada kabupaten yang sampai memiliki lebih dari satu pengurus cabang karena luas wilayah dan jumlah penduduknya besar. 

Nah, 521 cabang ini, kalau kita berfikir dari sudut pandang bisnis misalnya, ini bisa berarti 521 outlet di seluruh Indonesia, kalau kita bisa membangun suatu agenda nasional yang kita jabarkan dan eksekusi di tingkat cabang, di tingkat kabupaten yang langsung engage, langsung bersinggungan dengan masyarakat basis, ini akan menjadi strategi kekuatan transformatif yang besar sekali, apalagi di tengah keadaan butuh bangkit bangsa ini, di tengah-tengah tantangan pasca pandemi harus ada kekuatan yang besar, merata, bergerak bersama-sama supaya masyarakat bisa dipicu kekuatannya secara bersama-sama.

Secara internasional, banyak masalah global yang menjadi kemelut dan tak kunjung selesai, bukan hanya di dunia Islam saja atau timur tengah, tapi barat mengalami kemelut luar biasa. Dalam sekurang-kurangnya 5 tahun terakhir ini sudah banyak pihak-pihak internasional yang mengakui dan mengharapkan peran NU. Anda googling saja, baca berita-berita internaional itu sudah banyak berita tokoh-tokoh internasional yang berharap peran NU. Bahkan belum lama ini, pihak dari Inggris ada inisiatif membentuk komisi Indo-Pasific yang anggotanya 16 orang, semuanya dari kalangan diplomat dan politisi senior, tapi salah satu anggotanya dari Indonesia itu dari ormas NU yaitu saya. Ini menunjukkan ada harapan NU ikut serta dalam pergualatan ini memberikan konstribusi dan jalan keluar. Ini tantangan besar yang harus dijawab dengan perbaikan kinerja dan konsolidasi, agar NU bisa memenuhi tantangan itu.  

Kabarnya Anda sudah didukung PCNU se-Jatim, ini klaim saja atau memang benar adanya?