Herry Si Pencabul 13 Santriwati Diperiksa Jaksa

Ilustrasi sidang di pengadilan.
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVA – Sidang lanjutan kasus asusila 13 santriwati oleh guru Herry Wirawan kembali digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri Kelas 1A Khusus Bandung, Jawa Barat, dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Untuk kepentingan keamanan, Herry diputuskan tidak dihadirkan secara fisik.

img_title Komnas HAM Minta Pemulihan Psikologi Buat Santriwati Ponpes di Sukoharjo yang Diduga Trauma Akibat Penggerebekan Polri

Herry, yang kini ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kebonwaru, diwajibkan mengikuti persidangan secara virtual. "Tidak jadi [hadir di persidangan]. [juga ada] masalah kesehatan dan keamanan," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Dodi Gozali Emil, Selasa, 4 Januari 2022.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kasus asusila oleh guru Boarding School di Bandung terhadap 13 muridnya itu hingga melahirkan menyakitkan publik. Korban rata-rata merupakan warga pelosok yang sulit diakses di Kabupaten Garut.

img_title Sudaryono: Dapur MBG Kini Bisa Diawasi Posyandu hingga Orang Tua Siswa

"Saya baru menengok mereka, perjalanannya sangat jauh. Dari kota di Garut selatan saja menuju kampung mereka memakan waktu tujuh jam," kata Anggota DPR RI Dedi Mulyadi kepada VIVA, Senin, 13 Desember 2021.

Herry Wirawan, guru pesantren di Bandung yang cabuli belasan santrinya

Photo :
  • Istimewa

img_title Mendikdasmen Beri Kabar Baik! Guru Non ASN Tak Akan di-PHK Meski Tidak Lulus Tes CPNS

Dedi menuturkan, para korban yang harus benar-benar dilindungi dan tetap mendapatkan hak pendidikannya, harus dikawal. "Tapi rata-rata mereka (para korban) sudah mulai membaik. Mereka ingin kembali lagi ke sekolah," katanya.

Dedi menerangkan, dari informasi yang didapatkan di lapangan, aksi bejat Herry diduga dilakukan kepada selain mereka. "Sebenarnya korbannya bisa lebih dari belasan orang. Namun ada beberapa orangtua yang masih tidak percaya," katanya.

Berdasarkan kabar yang didapatkannya pun pelaku mendirikan boarding school bukan untuk kepentingan pendidikan. Pelaku melakukan bejatnya tidak hanya di pesantren melainkan di hotel dan aparteman yang diduga dibiayai oleh dana bantuan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan, kata Dedi, pelaku berencana mendirikan panti asuhan. "Panti asuhan itu didirikan untuk menampung bayi hasil pencabulan dan mendapat bantuan-bantuan dari berbagai pihak. Itu pelaku benar-benar 'sakit'," katanya.

Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah Anshor

Buntut Polisi Todong Senjata ke Santriwati, Komnas Perempuan: Proses Hukum Tidak Membenarkan Tindakan Itu

Soal insiden dugaan polisi bentak dan todong senjata ke Santriwati saat geledah Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an di Sukoharjo, Jateng. Sontak Komnas Perempuan

img_title
VIVA.co.id
2 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut