Edukasi Soal Bahaya Merkuri Dinilai Penting untuk Masyarakat

Merkuri.
Merkuri.
Sumber :
  • ABC News

VIVA - Merkuri selama ini banyak digunakan baik dalam industri pertambangan, pertanian, kosmetik, peralatan listrik, bahkan industri medis. Namun, bahan kimia tersebut dinilai sangat merusak bila salah memperlakukannya.

Merkuri, bahan beracun berbahaya yang diamankan di Bandar Lampung.

Merkuri, bahan beracun berbahaya yang diamankan di Bandar Lampung.

Photo :
  • VIVA.co.id/Ardian

"Perlu tindaklanjut serius dalam penguatan edukasi ke publik terkait bahaya merkuri tersebut," kata utusan dari perusahaan pengolah limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3), PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Arum Tri Pusposari, melalui siaran persnya, Selasa, 5 April 2022.

Bagaimana Memperlakukan Limbah Tersebut

Selain edukasi mengenai bahaya merkuri, kata dia, publik juga perlu mengetahui bagaimana memperlakukan limbah tersebut.

"Masyarakat perlu tahu bahwa tanpa disadari kita hidup dan tinggal dengan dikelilingi merkuri, seperti penggunaan lampu TL, termometer air raksa, tensimeter, amalgam gigi, baterai, lampu bertekanan tinggi dan kosmetik ilegal," kata manager humas PT PPLI itu.

Baca juga: Intip Deklarasi Bali, Komitmen Dunia Basmi Perdagangan Ilegal Merkuri

Dukung Pemerintah Gencarkan Edukasi

Karena tingginya bahaya dan resiko dari penggunaan merkuri, institusinya mendukung pemerintah Indonesia untuk menggencarkan edukasi terkait merkuri tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak 21 Maret hingga 25 Maret menggelar Konvensi Minamata tentang Merkuri di Bali dihadiri delegasi 135 negara. Acara yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) itu dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta termasuk utusan dari PT PPLI.

Konvensi Minamata tentang Merkuri Tahun 2022 dihadiri oleh Executive Director of the United Nations, Ms.Inger La Cour Andersen, Executive Secretary of the Minamata Convention, Monika Stankiewicz, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya serta Gubernur Bali I Wayan Koster.

Istilah Minamata yang digunakan sebagai nama konferensi tersebut diambil dari salah satu daerah di Jepang. Kala itu, 1958 terjadi peristiwa pencemaran merkuri paling dahsyat.

Saat itu, PT Chisso membuang limbah kimianya di Teluk Minamata dalam jumlah besar. Ikan-ikan tercemar merkuri dan banyak warga terkena penyakit dan alami cacat fisik.

Bahkan ratusan warga lainnya meninggal akibat kelumpuhan syaraf setelah mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri.

Hasil Konvensi

Salah satu hasil dari konvensi menyimpulkan bahwa pencemaran merkuri mudah menyebar lewat udara, tanah, dan air. Paparan merkuri yang tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan, mulai dari yang bersifat korosif ke kulit secara langsung, kerusakan pada saluran pencernaan, sistem saraf, dan ginjal.

Selain itu, merkuri juga berisiko mengganggu berbagai organ tubuh, seperti otak, jantung, paru-paru, hingga sistem kekebalan tubuh, gangguan Janin dan fungsi reproduksi perempuan.

Untuk itu edukasi tentang bahaya penggunaan merkuri perlu ditingkatkan, guna menurunkan risiko dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan yang disebabkan oleh senyawa dan lepasan merkuri.