Pernah Jadi Asisten, Mahfud Md Kenang Pemikiran Buya Syafii

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud Md
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud Md
Sumber :
  • VIVA/Cahyo Edi

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md melayat ke Masjid Gedhe Kauman tempat Buya Syafii Maarif disemayamkan. Saat melayat, Mahfud sempat mengenang jika dirinya pernah menjadi asisten Buya Syafii.

Mahfud menceritakan jika dirinya menjadi asisten Buya Syafii dalam mata kuliah Pancasila II. Mata kuliah ini berisi tentang filsafat kenegaraan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melayat jenazah Buya Syafii Maarif

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melayat jenazah Buya Syafii Maarif

Photo :
  • Istimewa


"Saya adalah asisten Pak Syafii ketika mengajar mata kuliah Pancasila II dulu. Pancasila II itu filsafat kenegaraan. Saya mengajar bersama Pak Syafii Maarif. Saya sebagai asistennya, jadi saya punya kenangan yang cukup dalam," kata Mahfud.

Mahfud menerangkan jika bangsa Indonesia kehilangan sosok seorang Buya Syafii. Mahfud menilai Buya Syafii adalah seorang bangsawan yang selalu memikirkan kepentingan bangsa Indonesia. Bahkan sampai akhir hayatnya pun masih memikirkan tentang bangsa Indonesia.

"Bangsa dan negara kita kehilangan seorang guru besar Buya Syafii Maarif meskipun bukan seorang ningrat, tapi beliau bisa disebut sebagai bangsawan. Dalam arti dia selalu berpikir untuk kepentingan bangsa. Sampai saat-saat terakhir," tutur Mahfud.

Mahfud menambahkan ide-ide pemikiran Buya Syafii layak untuk diteruskan oleh generasi muda. Utamanya tentang ide kerukunan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Oleh sebab itu saya kira kita semua yang mencintai Pak Syafii Maarif perlu melanjutkan ide-idenya dalam kehidupan bersama, berbangsa dan bernegara. Rukun bersatu kemudian kompak saling membantu dalam prinsip hubungan antar manusia," ucap Mahfud.

"Hubungan antarmanusia itu seperti yang diajarkan oleh agama dan diyakini oleh Pak Syafii Maarif, kita tidak membeda-bedakan ikatan primordial. Semua manusia itu hidup dalam kosmopolitanisme. Hidup dalam kesewargaan," tutup Mahfud.