Profil Aksi Cepat Tanggap (ACT), Viral Disebut Selewengkan Dana Sosial

Penyerahan secara symbolic antara PT. Zuri Hotel Management kepada Aksi Cepat Tanggap Di Kantor Pusat ACT Jakarta.
Penyerahan secara symbolic antara PT. Zuri Hotel Management kepada Aksi Cepat Tanggap Di Kantor Pusat ACT Jakarta.
Sumber :

VIVA Nasional – ACT (Aksi Cepat Tanggap) dituding melakukan penyelewengan dana donasi yang diduga bermula dari Majalah Tempo edisi hari Sabtu, 2 Juli 2022 yang berjudul 'Kantong Bocor Dana Umat'. Oleh sebab itu, mulai dari tagar Jangan Percaya ACT (#JanganPercayaACT) hingga Aksi Cepat Tancap menjadi trending di Twitter. Dilansir dari laman resminya act.id, Aksi Cepat Tanggap atau ACT merupakan yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan dan sosial. 

Nama Ahyudin, kemudian terseret karena ia merupakan pendiri ACT yang resmi sebagai yayasan pada 5 April 2005. Ahyudin sudah mengundurkan diri sebagai Ketua ACT pada 2022. Posisinya kemudian digantikan Ibnu Khajar yang menjadi Ketua Yayasan Aksi Cepat Tanggap sejak Januari 2022. Pada bulan Januari 2022, Ahyudin memutuskan untuk hengkang dari lembaga kemanusiaan yang didirikan dan dipimpinnya selama 17 tahun itu.

Dia hengkang setelah muncul tudingan bahwa ia menyalahgunakan fasilitas perusahaan dan menerima gaji terlalu besar. Kepada Tempo melalui wawancara pada 1 Juli 2022, Ahyudin membantah semua tuduhan tersebut. Berikut profil Aksi Cepat Tanggap:

Sejarah

Tanggal 21 April 2005, Aksi Cepat Tanggap (ACT) secara resmi diluncurkan secara hukum sebagai yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Untuk memperluas karya, ACT mengembangkan aktivitasnya, mulai dari kegiatan tanggap darurat, kemudian mengembangkan kegiatannya ke program pemulihan pascabencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat dan Wakaf.

ACT didukung oleh donatur publik dari masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan kemanusiaan dan juga partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan Corporate Social Responsibility (CSR). Sebagai bagian dari akuntabilitas keuangannya ACT secara rutin memberikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik kepada donatur dan pemangku kepentingan lainnya, serta mempublikasikannya melalui media massa.

Sejak tahun 2012 ACT mentransformasi dirinya menjadi sebuah lembaga kemanusiaan global, dengan jangkauan aktivitas yang lebih luas. Pada skala lokal, ACT mengembangkan jejaring ke semua provinsi baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT. Jangkauan aktivitas program sekarang sudah sampai ke 30 provinsi dan 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.