FIFA Larang Gas Air Mata di Stadion, Kok Dipakai Polisi di Kanjuruhan?

Kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Arema vs Persebaya
Kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Arema vs Persebaya
Sumber :
  • (Foto AP/Yudha Prabowo)

VIVA Nasional – Tragedi tewasnya 129 orang suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, menyisakan duka mendalam. Kericuhan berawal dari protes suporter Aremania karena tim kebanggaannya kalah dengan skor 3-2 atas Persebaya.

Beberapa oknum Aremania yang kecewa mencoba turun ke lapangan sebagai bentuk protes. Petugas keamanan dari TNI, Polri dan keamanan internal mencoba menghalau Aremania untuk kembali ke tribun.

Tetapi bentrokan tidak bisa dihindarkan. Polisi menembakan gas air mata ke arah suporter. Ribuan Aremania pun lari menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka banyak yang pingsan, terinjak-injak dan membutuhkan pertolongan medis.

Pantauan di lapangan, ratusan suporter dikabarkan meninggal dunia. Beberapa jenazah itu ditutupi dengan kain, banner, baju ataupun alat penutup lainnya. Sementara ratusan Aremania terluka akibat gas air mata dan terinjak-injak.

Kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang

Kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang

Photo :
  • twitter

Kekacauan pun terjadi di lorong ruang ganti atau lobby hingga tengah lapangan Stadion Kanjuruhan. Ratusan Aremania dibopong oleh Aremania lainnya. Sebagian langsung dibawa ke rumah sakit. Sebagian besar dari mereka mengalami sesak nafas dan pingsan.

Pengamat Sepak Bola, Tommy Welly menyayangkan pengunaan gas air mata di dalam stadion. Padahal, FIFA dalam Stadium Safety and Security Regulations tegas melarang penggunaan senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan di dalam stadion.