Penikmat Gaduh di Lingkar Tambang
- Dok PT AMNT via Satria Zulfikar
Safruddin mengatakan warga di lingkar tambang sangat terbuka dengan investor yang datang untuk berinvestasi. Baginya, siapapun yang datang selagi tidak membawa keresahan dapat diterima.
“Kami dukung semua investasi yang ada selama untuk hal positif. Siapa saja yang datang selama ada niat membangun desa kami silhkan. Kami berharap anak cucu kami bisa punya pekerjaan di sini, itu saja. Siapa saja investor kami tetap berharap,” katanya.
Serangan terhadap tambang memang selalu masif dilakukan sejak awal tahun ini. Mulai dari mahasiswa, LSM hingga DPR ikut menyuarakan apa yang disebut sebagai permasalahan di perusahaan tambang. Namun apakah gerakan-gerakan tersebut ditunggangi?
Penikmat Gaduh
Bagi warga lingkar tambang sangat santer familiar dengan sebuah nama seorang mantan petinggi di PT AMMAN yang diduga membiayai setiap gerakan untuk melawan perusahaan. Rumor pembiayaan terhadap setiap gerakan yang melawan perusahaan sudah sering terdengar di Maluk, bahkan KSB.
Seorang tokoh pemuda di Maluk, Boy Burhanuddin Teta berbicara banyak soal itu. Ketua MPC Pemuda Pancasila Sumbawa Barat itu mengaku dia dan beberapa aktivis di KSB sengaja direkrut oleh eks petinggi AMMAN dan digaji Rp 5 juta per bulan untuk menggelar aksi-aksi menyerang perusahaan.
“Kita digaji 5 juta waktu itu per satu bulan,” kata Boy.
MPC Pemuda Pancasila Sumbawa Barat
- VIVA/Satria Zulfikar
Boy mengaku sudah sering bertemu eks petinggi perusahaan tersebut. Mereka kemudian merancang aksi bagaimana menyerang perusahaan dengan isu-isu strategis di sana, berbekal informasi dari eks petinggi yang pernah menjadi orang paling berperan strategis di PT AMNT.
“Saya ke rumahnya waktu itu. Ini benar, saya tidak gentar berbicara benar. Saya berani mempertanggungjawabkan yang membiayai a, b, c itu dia. Kita digaji 5 juta waktu itu. Sekarang (gajinya) enggak tahu,” katanya.
Boy saat itu berpikir dengan risiko melawan perusahaan yang bertolak belakang dengan keinginan masyarakat di lingkar tambang. Sehingga, dia memilih keluar dan kini mendukung keberadaan tambang.
“Kita diperintah a,b,c yang kita lawan gajah besar. Berani enggak mereka bertanggungjawab ketika kita mati. Kita terbunuh siapa yang tanggung jawab untuk anak kita. Kecuali ketika Boy mati maka ada santunan, cacat tetap santunan,” katanya.