Imigrasi Gandeng Polri dan BP2MI Cegah TPPO dari Desa

Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa)
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VIVA - Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan pembekalan kepada 146 Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa), yang resmi dibentuk oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Dalam pembekalan tersebut, Imigrasi menggandeng Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Bareskrim Polri, dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).

img_title Penyelundupan Emas 25,88 Kg ke Luar Negeri Digagalkan Bea Cukai, Nilainya Capai Rp61 Miliar

Plt Direktur Jenderal Imigrasi, Saffar Muhammad Godam menjelaskan Imigrasi perlu memfasilitasi pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SM) untuk memberikan pembekalan terhadap 146 Petugas Imigrasi Pembina Desa, agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Langkah pertama yang kami lakukan yakni bersinergi dengan instansi terkait seperti BP2MI dan Polri. Sebelum memberikan edukasi keimigrasian, penting bagi Pimpasa memahami konteks sosial dari desa-desa yang akan dibinanya,” kata Saffar melalui keterangannya pada Kamis, 7 November 2024.

img_title Tanah Lebih dari 3,3 Hektare hingga Uang Rp5,4 Miliar, Ini Daftar Aset yang Disita dan Diblokir Bareskrim di Berkas FH

Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa)

Photo :
  • Istimewa

Sementara Direktur Intelijen Keimigrasian, Anom Wibowo mengatakan, proses konsolidasi masyarakat di desa-desa binaan Imigrasi tidak terlepas dari sinergi dengan instansi terkait. Makanya, kata dia, pihaknya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan tindak pidana perdagangan orang penyelundupan manusia dari sisi keimigrasian.

img_title Prabowo Dorong Desa Jadi Sumber Kekuatan Ekonomi Nasional

“Pimpasa memegang irisan dari ketiga instansi yang kami hadirkan dalam kegiatan pembekalan ini. Pimpasa juga bersifat sebagai early warning system, di mana petugas mengumpulkan informasi berupa masukan dan pertanyaan yang diperoleh dari masyarakat terkait isu keimigrasian,” jelas dia.

Selain itu, Perwira Menengah (Pamen) Bareskrim Polri, AKP Roy Suganda Putra Sinurat mengungkap faktor-faktor penyebab TPPO di Indonesia, seperti faktor ekonomi, geografis, hingga sosial-budaya. Kata dia, penanganan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Indonesia yang diatur oleh Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2007 dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2023.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, rendahnya kesadaran masyarakat, penggunaan akun palsu untuk perekrutan online, serta perbedaan persepsi hukum antar negara menjadi tantangan utama dalam menangani TPPO. Tentu, kata dia, strategi yang diterapkan Polri untuk menanggulangi TPPO mencakup sosialisasi dan peningkatan patroli di daerah rawan kejahatan. 

“TPPO mencakup unsur proses, cara, dan tujuan eksploitasi, yang bisa meliputi perekrutan, pengangkutan, dan pemanfaatan korban untuk berbagai bentuk eksploitasi seperti praktik prostitusi, kerja paksa hingga perdagangan organ tubuh,” ungkapnya.

Konferensi pers pengungkapan penyelundupan 1,16 ton ketamin di Terminal Penumpang Bandar Deli, Belawan, Sumut.

Bareskrim Ungkap 7 ABK Kapal Pembawa 1,16 Ton Ketamin Tak Tahu Muatan, Akui Direkrut untuk Angkut Minyak

Bareskrim mengungkap tujuh ABK MT Global 168 tak tahu kapal membawa 1,16 ton ketamin. Mereka hanya menjadi saksi, sementara manajer kapal jadi tersangka.

img_title
VIVA.co.id
27 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut